30 Agustus 2019

Tradisi Sedekah Bumi "Gumbrengan" Warga Desa Tanjungharjo

    Jumat, Agustus 30, 2019  

Reporter : Abdul Qohar

SeputarBojonegoro.com - Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. Ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani, nelayan yang menggantunggkan hidup keluarga dan sanak family mereka dari mengais rizqi dari memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi.

Warga masyarakat desa Tanjungharjo kecamatan Kapas kabupaten Bojonegoro Jum'at (30/08/19), puluhan gunungan yang berisi ketupat dan berbagai hasil bumi diarak keliling kampung, acara ini di lakukan dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia yang ke 74 tahun, serta hari jadi desa Tanjungharjo yang ke 92 tahun.



Suyono, kepala desa Tanjungharjo mengatakan Gumbrengan ini dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Tuhan atas hasil panen yang di peroleh, serta diberi kemudahan dalam musim selanjutnya

"Ternyata luar biasa, warga masyarakat antusias mengikuti Gumbrengan ini," ungkap kades

Setelah di doakan oleh sesepuh adat, kemudian di bagikan kepada warga ada yang di makan secara ramai ramai, namun ada juga sebagian masyarakat yang membawa nasi tumpeng tersebut yang membawanya pulang untuk dimakan beserta sanak keluarganya di rumah masing-masing. [qoh/sbc]


Foto : Dedy Mahdi

30 Juni 2018

Objek Wisata BUTON Seperti Tak Terurus

    Sabtu, Juni 30, 2018  
Kontributor: S. Windyasari

SeputarBojonegoro.com - Masih ingatkah kalian dengan objek wisata Buton yang berada di Kecamatan Gondang tepatnya di desa Sambongrejo yang dulu sempat booming? Perbedaannya justru sangat mencolok, dimana Buton saat ini tak terurus & terbengkalai. Sabtu (30/06/2018)

Saat di temui SeputarBojonegoro.com pihak management membenarkan akan hal tersebut dikarenakan ada oknum yang tidak bertanggung jawab sengaja merusak seperti yang dijelaskan oleh Galih Satria Buana Putra.

"Ya memang benar ada beberapa hal yang membuat wisata tersebut menjadi terbengkalai, salah satunya ada aksi fandalisme dari oknum yg tidak bertanggung jawab. Contohnya ada coretan dan perusakan beberapa fasilitas serta spot-spot foto di Buton sendiri perusakannya sendiri itu bisa di katakan parah, sampai ada pembakaran gazebo di beberapa titik." Tegasnya

Salah satu spot foto yang rusak di taman Buton

Dengan kondisi tersebut pihak management sendiri akhirnya memvakumkan wisata tersebut mulai awal Juni kemarin.

"Yang jelas wisata ini akan tetap kita pertahankan, untuk sementara memang kita tutup dulu sampai kondisi normal kembali," pungkasnya.

Bahkan dari warga sekitar pun banyak berharap ada tanggapan serius dari pihak terkait termasuk pihak keamanan dengan persoalan tersebut. Agar masalah ini tidak terulang kembali dan memberikan efek jera pada beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab serta wisata Buton dapat kembali seperti saat pertama dibuka. (Wind/red)

Pasca Libur Lebaran Tempat Wisata Ini Kembali Rapi

    Sabtu, Juni 30, 2018  
Reporter: Didik Winarto


SeputarBojonegoro.com - Waduk Grobokan yang terletak di Desa Bendo Kecamatan Kapas, Bojonegoro saat ini tampak rapi, setelah beberapa warga melakukana penataan dan juga membersihkan sekitar waduk setelah waduk ini dipenuhi oleh pengunjung.

Dari pantuan SeputarBojonegoro.com, tampak sebelumnya diair waduk banyak ikan yang mati dan airnta terlihat kotor. "Sekarang saat saya berkunjung diwaduk sudah bersih dan terasa nyaman kembali, " Kata Sugeng Riyadi. Sabtu (29/6/18).

Banyaknya ikan yang mati diwaduk Grobokan ini karena diduga diracun oleh orang tak dikenal, sehingga membuat kotor air waduk dan merusak pemandangan.

Lokasi wisata yang bertempat diarea persawahan tersebut, beberapa warga nampak masih membersihkan waduk yang dibuka setahun lalu.

Sebelumnya pada liburan lebaran, lokasi wisata waduk Grobokan ini dipenuhi oleh warga yang sengaja datang untuk mengisi liburan lebaran Idul Fitri 2018. (Dik/Red)

21 Juni 2018

Sosok Mbah Joni, Pengrajin Wayang Dari Kertas

    Kamis, Juni 21, 2018  
Reporter: Didik Winarto

SeputarBojonegoro.com - Siang yang cerah, melihat aktifitas dan kesibukan seorang pria yang hampir setiap hari bergelut dengan tokoh tokoh Pewayangan yang dibuatnya dari kertas. Mbah Joni demikian pria supel yang sudah berumur 70 tahun ini disapa.

Ditempat Mbah Joni, yaitu disalah satu warung di Jalan Hayam Wuruk, Bojonegoro Kota, Seperti biasa dengan senyum khasnya beliau menyambut awak media SeputarBojonegoro.com saat bertandang ke tempatnya, ditengah keaibukannya membuat wayang dari kertas dengan bercanda beliau menceritakan sudah 10 tahun dirinya membuat kerajinan wayang berbahan kertas.

Tangan trampil Mbah Joni, menggambar sketsa wayang diatas kertas, kemudian mengguntingnya. "Bahannya dari kertas, dan menggubakan peralatan biasa seperti gunting, pisau dan lainnya," Kata Mbah Joni.

Dari bahan-bahan sederhana inilah Mbah Joni mampu menghasilkan karya indah yaitu sebuah tokoh wayang, dan hasil karyanya ia jual mulai yang termurah Rp 5ribu sampai Rp 30ribu untuk ukuran paling besar.

Pria yang berasal dari Solo yang sudah berpuluh tahun tinggal di Bojonegoro ini mengatakan, bahwa niat awal membuat kerajinan wayang ini adalah karena tidak ingin melihat salah satu tradisi peninggalan nenek moyang hilang dan dilupakan oleh generasi muda.

"pergantian zaman diakui atau tidak juga akan mengkis budaya dan dan tradisi," Kata Mbah Joni.

Dikatakan juga olehnya bahwa generasi muda lebih memilih gadget dari pada mengingat dan melestarikan budaya leluhur. Memang hanya sebuah wayang kertas, dan dijual kepada anak anak,  akan tetapi menurut mbah Joni mampu mengingatkan tradisi masyarakat Indonesia. (Zam/Red)

18 Juni 2018

Waduk Grobokan Diserbu Pengunjung Dilibur Lebaran

    Senin, Juni 18, 2018  
Reporter: Didik Winarto

SeputarBojonegoro.com - Pada H + 2 libur lebaran hari Raya Idul Fitri 2018, Waduk Grobokan yang terletak di Desa Bendo,  Kecamatan Kapas, Bojonegoro di serbu banyak pengunjung untuk mengisi Libur Lebaran ini tahun ini.

Dari data yang dihimpun SeputarBojonegoro.com, jumlah pengunjung mengalami peningkatan yang signifikan dibanding hari-hari biasanya.

Dengan cukup membayar Rp 2000 saja pengunjung dapat menikmati keindahan panorama tanaman jati yang berjajar disepanjang waduk serta hamparan persawahan yang cukup exotis.

"Sangat menarik dan bagus mas pemandanganya, ya cukup buat menghilangkan penat " ujar Siti Qomariah salah satu pengunjung yang berasal dari desa Pacul kecamatan kota Bojonegoro,  Senin (18/6/18).

Peningkatan jumlah pengunjung juga berdampak pada larisnya dagangan para penjual yang berderet diskitar pintu masuk waduk dibuka hampir setahun ini. (Dik/Red)

08 Juni 2018

Kader PDI Perjuangan Bojonegoro & Anak-anak Yatim Ziarah Makam Bung Karno

    Jumat, Juni 08, 2018  
SeputarBojonegoro.com  - Ratusan Kader PDI (Partai Demokrasi Indonesia)  Perjuangan DPC Bojonegoro melakukan Ziarah Makam Bung Karno di Kabupaten Blitar bersama anak anak Yatim,Jum'at (8/6/18).

Kegiatan Ziarah Makam presiden Pertama Republik Indonesia ini dalam rangka memperkuat ingatan perjuangan dan pengabdian Bung Karno terhadap Tanah Air, Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia.

PLT Ketua DPC PDI Perjuangan Kab. Bojonegoro, H. Abidin Fikri, S.H., M.H. menyampaikan bahwa Tradisi ziarah dalam Bulan Bung Karno sekaligus Bulan Ramadhan ini akan diikuti oleh kurang lebih seratus orang. Rombongan  berangkat dari Kantor DPC PDI  Perjuangan Kab. Bojonegoro dengan menaiki tiga bus pada hari Jumat, 8 Juni 2018, pukul 07.00 pagi ini.

"Dengan Ziarag ini kami mengajak masyarakat untuk mengibgat kembali Perjuangan Bung Karno dan juga tradiai Ziarah Kubur pada Bulan Ramadhan," Terang Abidin Fikri.

Pria yang juga anggota DPR RI dari dapil 9 Bojonegoro dan Tuban ini juga mengatakan bahwa Ziarah makam Bung Karno akan diisi oleh doa bersama dan refleksi  mengenang dan penghormatan terhadap perjuangan suci Bung Karno yang semasa hidupnya diabdikan untuk keselamatan bangsa dan Negara. (SBC)


Arti Malam Nuzulul Quran 2018 Yang Jatuh Pada Malam 17 Ramadhan

    Jumat, Juni 08, 2018  
Malam Nuzulul Quran adalah malam dimana Kitab Suci Umat Islam (Al-Qur’an) diturunkan secara keseluruhan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.
Kemudian secara berangsur di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW disepanjang kehidupannya atau dalam waktu kurang lebih 23 tahun.
Surat Al-Qur’an pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad adalah Surat Al-Alaq sebanyak 5 ayat.
Untuk Ramadhan tahun 2018/1439 Hijriyah, Malam Nuzulul Qur’an jatuh pada hari Jumat, bertepatan dengan tanggal, 01 Juni 2018, hal tersebut di tarik dari penanggalan Hijriyah, dimana hari Jumat, 01 Juni 2018 selepas magrib sudah masuk tanggal 17 Ramadhan.
Memang jika di hitung dengan penaggalan Masehi dengan mulai Puasa hari Kamis, 17 Mei 2018, maka tanggal 17 Ramadhan = Hari Sabtu, 02 Juni 2018, namun dalam penggalan Hijriyah, hari Jumat selepas Magrib, tanggal 01 Juni 2018 sudah masuk tanggal 17 Ramadhan 1439 H.

Kaitan 17 Ramadhan dan Malam Nuzulul Quran

Al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan, namun penyampaiannya kepada Nabi Muhammad dilakukan secara berangsur-angsur.

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Artinya : “Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)
Sebagaimana di kutip dari Era MuslimLailatul Qadarsendiri berada pada 10 malam terakhir di Bulan Ramadhan.
Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah mengapa malam 17 Ramadhan di peringati sebagai Nuzulul Quran (Turunnya Alquran) ? Bukankan Al-Quran diturunkan pada malam lailtul Qadar (10 malam terakhir di Bulan Ramadhan) ?
Adapun yang menjadi dasar kaum muslimin memperingati Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan di mungkinkan karena pada tanggal tersebut di turunkannya ayat pertama Al-Qur’an dari surat Al Alaq kepada Nabi Muhammad SAW dari ayat 1 sampai 5.
Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir didalam kitabnya ”Al Bidayah wa an Nihayah” menukil dari Al Waqidiy dari Abu Ja’far al Baqir yang mengatakan bahwa awal diturunkannya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW adalah pada hari Senin tanggal 17 Ramadhan, akan tetapi ada juga yang mengatakan tanggal 24 Ramadhan.
Itulah mengapa malam 17 Ramadhan diperingati sebagai malam Nuzulul Quran (Turunnya Al-Qur’an), hal tersebut di karenakan Ayat Al-Qur’an pertama yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW diturunkan pada tanggal tersebut.
Untuk memperingati Malam di turunkannya Al-Quran ini, di Indonesia biasanya di lakukan ceramah atau pengajian khusus bertemakan Nuzulul Qur’an.
Untuk Referensi lebih lengkap mengenai kaitan tanggal 17 ramadhan dan Nuzulul Qur’an, bisa dilihat di situs Era Muslim.

07 Juni 2018

Seni Budaya Akan Mendapatkan Nilai Jual Tinggi di Bojonegoro

    Kamis, Juni 07, 2018  
SeputarBojonegoro.com  - Seni dan Budaya adalah bagian dari Bojonegoro yang tidak dapat ditinggalkan oleh warga, karena didalamnya baik Seni maupun Budaya menyimpan Norma norma luhur yang bisa menjadi tauladan masyarakat.
tidak sedikit pula karya seni maupun tradisi budaya Bojonegoro dikenal oleh masyarakat luas, dan juga sebagai bentuk promosi wisata di Bojonegoro, salah satunya adalah seni tari. Kesenian tari di Bojonegoro mulai diminati. Banyak sanggar seni bermunculan hingga di desa pinggiran.
Sayangnya keberadaan wadah kreatifitas seni itu, selama ini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Persoalan inilah yang akan dicarikan solusinya oleh pasangan calon bupati (Cabup) dan wakil bupati (Cawabup) Bojonegoro, Soehadi Moeljono dan Mitroatin. Pasangan yang dikenal masyarakat dengan sebutan “Mulyo – Atine” telah menyiapkan sejumlah program untuk memberdayakan pelaku seni dan memajukan kesenian tradisional. Tujuannya agar dapat mendukung sektor wisata sekaligus menjadi ikon budaya Bojonegoro.
Seperti halnya yang diharapkan Kinasih, warga Desa Sukosewu, Kecamatan Sukosewu. Gadis 20 tahun itu telah lama memimpikan menjadi seorang penari profesional.
‌Keinginan Kinasih menjadi penari berawal saat dia mulai duduk di bangku kelas II SD. Saat itu diminta gurunya menampilkan salah satu tarian jawa untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI.
“Dari situ keterusan, selalu ditunjuk untuk menari setiap ada event besar,” kenangnya saat menceritakan kepada wartawan, Selasa (17/4/2018).
Kemudian Anisa, panggilan akrabnya, memperdalam ilmu tarinya saat memasuki bangku SMP. Dia ikut bergabung di salah satu sanggar yang ada di Sukosewu. “Dari situlah, saya belajar banyak tentang tarian tradisional dan masih banyak lainnya,” tandasnya.
Selama ikut kesenian menari, gadis berhijab ini hanya tampil dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya. Belum pernah tampil pada event-event besar atau sampai luar kota. “Sekarang sudah jarang tampil, saya fokus kuliah sambil ngajar nari anak-anak kecil di desa,” ucap mahasiswi Universitas Terbuka (UT) ini.
Selama ini, menurut Anisa, perhatian dari Pemka Bojonegoro masih kurang, terlebih dalam hal pendanaan. Rata-rata sanggar yang ada di desa pinggiran semuanya menggratiskan biaya saat latihan. “Kalau di desa itu pasti kendalanya biaya, karena untuk tampil itu butuh dana untuk sewa kostum dan make up. Sementara di sini, tidak semua sanggar menyediakan,” tandasnya.
Dia berharap, Pemkab Bojonegoro lebih memperhatikan sanggar-sanggar kecil di pinggiran baik pembinaan maupun pendampingan, sehingga mampu mencetak bibit-bibit unggul para penari profesional. “Saya berharap, Bupati Bojonegoro kedepan bisa menghidupkan lagi dunia seni tari di wilayah pedesaan. Jangan di kota saja,” tandasnya.
Senada disampaikan anggota Komunitas B’Intertainment, Ipang Dwi Prasetyo (27). Sejak SMP dia menggeluti seni tari termasuk tarian tradisional. Lajang asal Desa Banjarjo, Kecamatan Bojonegoro ini mengaku, untuk mengembangkan bakat tari, dia bersama komunitasnya selalu meningkatkan kapasitas diri dengan sering berlatih.
“Latihannya di mana saja, kadang di halaman kantor DPRD, kadang pinjam pendopo, tribun, mana saja yang bisa dipakai,” sambung Ipang, panggilan akrabnya dikonfirmasi terpisah. Untuk mempromosikan komunitasnya, Ipang juga memanfaatkan kecanggihan tekhnologi dan membuka komunikasi dengan semua orang. Hasilnya banyak yang menggunakan jasa tari dari Komunitas B’Intertainment ini baik dari lokal Bojonegoro maupun kabupaten lainnya. “Paling jauh kami pernah tampil di Jember,” tandasnya.
Diakui, perhatian Pemkab terhadap seni tari termasuk tari tradisional selama ini dinilai kurang. Baik dari sisi anggaran maupun dukungan promosi. Oleh karena itu, dia berharap Bupati terpilih mendatang, tidak pilih kasih dalam memberikan perhatian atau pembinaan di bidang seni tari. “Harapannya, Bupati terpilih memperhatikan komunitas atau sanggar tari yang ada di seluruh Bojonegoro agar bisa eksis lagi,” pungkasnya.
Menanggapi hal itu, Cabup Soehadi Moeljono, menyatakan, untuk memberdayakan pelaku seni ini diperlukan pembinaan, dan pendampingan secara berkelanjutan, serta sarana prasarana yang memadai. “Karena itu kita akan membangun seribu balai seni dan budaya di desa-desa, agar menjadi wahana belajar seni dan budaya bagi warga masyarakat, untuk menyalurkan hobi atau melatih profesi,” tegas mantan Sekda Bojonegoro ini.
Selain itu, pihaknya juga akan inten menggelar pertunjukan dan mengikutkan kesenian tradisional di ajang regional maupun nasional agar kesenian dan budaya Bojonegoro semakian dikenal masyarakat luas. “Ini akan menjadikan kesenian dan budaya Bojonegoro memiliki nilai jual,” tandas cabup yang berpasangan dengan Kader NU ini. (SBC/Lis)

15 Februari 2018

1.000 Balai untuk Seni Budaya Bojonegoro

    Kamis, Februari 15, 2018  
Reporter: Monika

suarabojonegoro.com - Perkembangan kesenian di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami pasang surut. Hal itu menunjukan bahwa kesenian dan kebudayaan di Bumi Angling Dharma, mengalami pergerakan. Meski begitu saat ini Bojonegoro belum mampu mengidentifikasi potensi, dan kekhasan budayanya.

"Oleh karena itu dibutuhkan political will dari pemerintah Kabupaten Bojonegoro," ujar seniman dan budayawan Bojonegoro, Agus Sigro, kepada wartawan, Rabu (14/2/2018).

 Jika dilihat dari intensitas peristiwa kesenian dan kebudayaan di Bojonegoro ini, menurut dia, hampir sering terjadi dan rutin dilakukan sejumlah komunitas. Peristiwa kesenian dan kebudayaan itu sering digelar pada ruang-ruang bebas yang masih jauh dari kelayakan dari gedung kesenian. Di Bojonegoro sendiri saat ini belum ada pusat kesenian dan kebudayaan yang standart.

"Oleh karena itu siapapun nanti yang akan menjadi Bupati Bojonegoro harus tahu,  bahwa mereka mempunyai tanggung jawab konstitusional untuk mengakomodir seluruh gagasan, perilaku, dan hasil karya warga masyarakat Bojonegoro," jelasnya.

Perilaku seni dan budaya yang dilakukan sejumlah komunitas ini, pada muaranya merupakan proses belajar, dan adaptasi terhadap lingkungannya yang berfungsi sebagai pedoman untuk kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Serta mampu mengangkat citra dan posisi Kabupaten Bojonegoro dalam konteks pergaulan yang lebih luas, baik antarprovinsi, Nasional, maupun internasional di bidang seni dan budaya.

Dia berharap, kepada empat kandidat calon bupati dan wakil bupati yang akan bertarung dalam Pilkada Bojonegoro 2018 mendatang, harus memiliki program di bidang kesenian dan budaya, diantaranya melestarikan cagar budaya, dan mengembangkan permuseuman secara berkelanjutan.

Selain itu membina kesenian baik seni tradisi maupun modern, untuk meningkatkan inspirasi dan apresiasi masyarakat terhadap seni sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa, membina komunitas-komunitas budaya dan memperkuat tradisi dalam keragaman budaya. Meningkatkan pemahaman sejarah dan nilai budaya dalam memperkuat ketahanan budaya bangsa, dan mengembangkan penelitian kebudayaan guna memperkuat identitas kebudayaan Bojonegoro.

Juga mengembangkan sumber daya kebudayaan yang berkualitas, serta menyediakan infrastruktur untuk mengekspresikan kreatifitas, dan apresiasi masyarakat berupa gedung kesenian yang representatif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Amir Syahid, mengakui, budaya dan kesenian di Bojonegoro sekarang ini masih dalam pencarian jati diri. Selama ini, institusi yang membidangi seni budaya dan pariwisata itu,  mendengarkan banyak cerita sebuah kebudayaan, dan seni dari masyarakat yang terkadang punya kepentingan.

Menurutnya, banyak komunitas seni dan budaya yang ada di Bojonegoro, namun hanya segelintir saja yang eksis melakukan kegiatan seni dan budaya. Meski demikian, Disbupar terus memberikan program dan bantuan demi keberlangsungan kelompok tersebut. Tujuannya agar seni dan budaya di Bojonegoro tetap terjaga dan lestari di tengah hempasan perubahan zaman.

Oleh sebab itu pihaknya akan menginventarisir jenis budaya asli di masyarakat, dan menciptakan inovasi hingga kreativitas baru antara kesenian lama dan masa kini agar generasi masa kini tidak bosan.

  Menurut Amir, kesenian yang ada di Bojonegoro saat ini diantaranya, seni tari, lukis, teater, patung, menyanyi, dan lain sebagainya. Sementara budaya, diantaranya Langen Tayub, Sedekah Bumi, Bersih Desa, Wayang Thengul, Gerebek berkah, dan masih banyak yang lainnya.

"Dari itu semua, masih belum ada yang dipatenkan milik Bojonegoro asli. Tapi kita upayakan inventarisir semuanya agar menemukan mana yang asli dari Bojonegoro," pungkasnya.

Dikonfirmasi secara terpisah salah satu Cabup Bojonegoro,  Soehadi Moeljono, mengatakan, pihaknya sangat merasakan apa yang menjadi kesulitan dan keinginan para pelaku seni dan budaya  tersebut.

"Kita tak bisa lepas dari budaya, dan jatidiri budaya khas Bojonegoro harus kita cari sebagai identitas daerah," kata Pak Mul, sapaan mantan Sekda Bojonegoro yang dalam Pilkada Bojonegoro 2018 berpasangan dengan kader militan Muslimat NU, Mitroatin, itu.

Dia katakan, dalam program bidang seni budaya ke depan akan diselenggarakan forum-forum kebudayaan dan kesenian daerah yang mengunggulkan karakter khas Wong Bojonegoro.

“Kita juga akan membangun seribu balai seni dan budaya sebagai wahana belajar seni, dan budaya bagi warga masyarakat, untuk menyalurkan hobi atau melatih profesi,” tegas Pak Mul yang juga Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bojonegoro.

‌Terkait keinginan pelaku seni budaya yang berharap ada gedung kesenian dan kebudayaan representatif, tambah Pak Mul, sebenarnya telah menjadi program pembangunan yang disusunnya. Semuanya dilakukan agar seluruh komponen masyarakat bisa lebih tangguh, dan sejahtera bersama.  (nik/Red)

18 Januari 2018

Kolaborasi Unigoro-Lesbumi dalam Sastra Pelataran sebagai Wadah Mahasiswa Berkesenian

    Kamis, Januari 18, 2018  

suarabojonegoro.com - Sastra Pelataran goes to Campus yang berlangsung di Universitas Bojonegoro, Rabu (17/01) malam kemarin sukses dilaksanakan. Ratusan orang berbondong-bondong datang dan memadati hall Universitas Bojonegoro untuk menikmati sajian seni dan budaya ini.

Kegiatan Sastra Pelataran yang mengusung "Seni Tradisi di Zaman Milenial" merupakan hasil kolaborasi Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (LESBUMI) Bojonegoro dengan UKM Kesenian Unigoro.

Musikalisasi Puisi, Dramatisasi Puisi "Lautan Jilbab", Musik Hadrah, Tari Sufi hingga Diskusi Budaya menjadi sajian dalam Sastra Pelataran malam kemarin.

Acara yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB tersebut turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB), Arif Januarso, S.Sos. M.Si, Rektor Universitas Bojonegoro, Slamet Kyswantoro, SE, MM, dan para dosen Unigoro yang juga turut serta membacakan puisi.

Hadir juga beberapa tamu undangan, para seniman dan budayawan, jurnalis, mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin menyaksikan pertunjukan seni itu.

Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB), Arif Januarso, S.Sos. M.Si mengapresiasi kegiatan kesenian Sastra Pelataran yang berlangsung di Unigoro tersebut dan berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan.

Ia juga mengatakan bahwa Universitas Bojonegoro memfasilitasi kesenian untuk para mahasiswa melalui UKM Kesenian yang dapat menjadi wadah kegiatan seni dan budaya.

"Unigoro mengapresiasi kegiatan Sastra Pelataran, kesenian dan budaya harus dikenali terutama untuk generasi saat ini. Melalui UKM Kesenian, Unigoro berusaha untuk tetap menghidupkan kegiatan seni dan budaya khususnya bagi para mahasiswa," ujarnya.

Sementara itu, Pembina UKM Kesenian Universitas Bojonegoro, Laily Agustina Rahmawati, S.Si, M.Sc mengaku cukup puas dengan kegiatan malam kemarin.

Meski persiapannya tidak panjang, semua divisi di UKM Kesenian Unigoro bisa berkolaborasi secara apik dengan para seniman dan budayawan Bojonegoro dalam Sastra Pelataran kemarin.

"Kami ingin terus belajar bersama para pegiat seni budaya di luar kampus, kolaborasi adalah salah satu cara kami untuk terus berkembang," ungkap Ketua LPPM Unigoro tersebut.

Pementasan Sastra Pelataran malam kemarin merupakan yang ke-15 diselenggarakan di Universitas Bojonegoro dan kedepan diharapkan akan tetap berlangsung. (Lis)

Universitas Bojonegoro, Gelar Sastra Pelataran

    Kamis, Januari 18, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Malam hari ini bertempat di Gedung Hall Universitas Bojonegoro, Jalan Lettu Suwolo, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, para seniman, mahasiswa, Dosen dan Masyarakat berkumpul guna mengikuti acara kesenian Sastra Plataran. Acara yang digelar oleh Unit Kerja Mahasiswa (UKM) yang mana dalam hal ini bekerjasama dengan Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi). Kamis (17/01/18).      

Ketua Lesbumi, Fauzi zam-zam dalam sambutannya menyatakan bahwa acara Sastra Pelataran Seni Tradisi ini merupakan agemda rutin yang diselenggarakan disetiap bulannya.

"Acara ini diselenggarakan rutin tiap bulan, dan acara ini diselenggarakan bekerjasama dengan dinas-dinas Pemkab", katanya.
Pada kesempatan ini Fauzi zam-zam memgapresiasi UKM Kesenian Unigoro, yang mana telah sukses mengadeng media dalam mensosialisasikan kegiatan tersebut.

"Alhamdulillah, kami mengapresiasi teman-teman UKM Kesenian Unigoro, yang mana telah sukses mensosialisasikan kegiatan malam ini", ujarnya.
                                                                   
Dikesempatan yang sama, Rektor Unigoro, Selamet kyswantoro, dalam sambutannya menyatakan bahwa dengan diselenggarakannya Sastra Plataran ini para mahasiswa dapat belajar serta memaknai semua yang terdapat di dalamnya.

"Kalau saya melihat dan saya tidak menyalahkan siapa-siapa, bahwa generasi sekarang telah hilang unggah-ungguh dan tata krama yang sudah mulai hilang", katanya.

Diakui atau tidak, lanjut pria yang akrab di sapa Pak Selamet, hal ini dikarenakan ada satu mata pelajaran baik ditingkat SD, SLTP, maupun SMA ang telah hilang.

"Salah satunya adalah Sastra, kalau saya masih ada mata pelajaran Budi Pekerti", ujarnya.

Sementara itu Arief Januarso, selaku Ketua Yayasan Suyitno, mengapresiasi serta berterimakasih kepada Lesbumi. Yang mana pada acara Sastra Plataran kali ini bertempat di Universitas Unigoro.

"Dengan adanya kegiatan adanya kegiatan Sastra Plataran di Unigoro ini harapan kami para mahasiswa yang mengikuti UKM kesenian dapat menyalurkan bakatnya", katanya.

Dirinya berharap dengan adanya kegiatan tersebut para Mahasiswa
Universitas Bojonegoro dapat belajar tentang bagaimana mengemas suatu pertunjukkan dengan baik dan bagaimana cara tampil dengan baik. (Bim/red).

16 Januari 2018

UKM Unigoro Akan Gelar Sastra Pelataran

    Selasa, Januari 16, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Dengan mengangkat tema "Seni Tradisi Dijaman Milenial" Unit Kerja Mahasiswa (UKM) Universitas Bojonegoro, pada hari Rabu 17 Januari 2018 akan mengelar kegiatan Sastra Pelataran Dramatisasi lautan jilbab. Acara yang dimulai pada Pukul 19.00 tersebut akan diisi dengan berbagai macam kesenian diantaranya adalah musik akustik yang akan dibawakan oleh para mahasiswa UKM, pembacaan puisi karya Gus Mus dan karya Cak Nun,dan lain-lain, Teater,musik religi yang dibawakan oleh Zam-Zam,Hadrah dari MAN I Bojonegoro dan tari Sufi. Selasa (16/01/17).

Ketua Yayasan Suyitno, yang dalam hal ini membawai Universitas Unigoro, melalui media suarabojonegoro.com, mengucapkan banyak terimakasih kepada Lesbumi. Yang mana Sastra Plataran kali ini bertempat di Universitas Unigoro.

"Dengan adanya kegiatan sastra adanya kegiatan sastra plataran di unigoro ini harapan kami para mahasiswa yang mengikuti ukm kesenian dapat menyalurkan bakatnya di acara tersebut", katanya Pria yang akrab disapa Mas Ayik ini.

Dirinya verharap dengan adanya kegiatan tersebut para Mahasiswa Universitas Bojonegoro dapat belajar tentang bagaimana mengemas suatu pertunjukkan dengan baik dan bagaimana cara tampil dengan baik.

"Acara ini terbuka, monggo kalau mau hadir", pungkasnya. (Bim/red).

07 Januari 2018

Pesona Wisata Alam Bojonegoro Selatan Telah Menyedot Ribuan Pengunjung

    Minggu, Januari 07, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Bojonegoro Selatan atau lebih tepatnya di Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, ini memang tidak habis dengan berjuta pesonanya. Di Kecamatan yang konon dulunya berupa lautan ini memiliki beberapa titik tempat wisata yang menajubkan. Kawasan hutan dan perbukitan disajikan di Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk ini. Minggu (07/01/18).

Menurut keterangan Bang Doel, selaku Ketua pengelola wisata Desa Sambongrejo, Kecamatan Gondang, semenjak tahun 2016 yang lalu baru dilaunching tempat wisata, sudah tercatat ribuan pengunjung, khususnya di hari-hari libur.

"Ditahun 2016 baru launching-launching saja, dan di tahun 2017 baru
tumbuh partisipasi masyarakat. Di liburan hari raya (idul fitri.red) tahun 2017 kemarin lebih dari seribu pengunjung. Penghasilan satu bulan diliburan kemarin itu kalau dipukul rata mencapai Rp11 juta perminggu, itu bukit Buton saja", katanya.

Dirinya menyatakan di Kecamatan Gondang ini ada beberapa titik tempat wisata, namun untuk pengelolaannya belum teroganisir penuh. Sehingga pihaknya tidak dapat mengidentivikasi jumlah pengunjung.

"Karena belum ada tiket masuk, jadi tidak bisa dihitung berapa jumlah pengunjungnya", ujarnya.

Pria yang kini mencoba mengembangkan budidaya buah strobery ini menuturkan, untuk menigkatkan jumlah pengunjung wisata pihaknya akan menigkatkan gebrakan-gebrakan yang inofatip.

"Untuk tahun 2017, karena bukit Buton sudah dianggap layak, pemerintah dengan memberikan fasilitas toilet, jadi sudah ada kontribusi tapi kurang maksimal", jelasnya.

Dari data yang dihinpun media suarabojonegoro.com, diantara tempat wisata yang ada di Kecamatan Gondang adalah Dan Ubalan, terletak di Desa Pajeng, Banyu Anget, Banyu Wedang, dan Selo Gajah, yang terletak di Desa Jari, Embung Biru, Gua Gogor, Gunung Lawang, Gunung Kendil dan Gunung Godek, yang terletak di Desa Pragelan, Gunung Jati Gunung Puru, Gunung Watu, Banyu Kuning yang terletak di Desa Krondonan

"Yang baru dirilis ini wisata Embung yang terketak di bawah bukit di Desa Pragelan, yang belum tersentuh oleh Pemerintah itu banyu anget dan banyu wedang", jelasnya.

Dirinya dan warga Kecamatan Gondang bergarap di tahun 2018 ini Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, untuk lebih serius merespon partisipasi masyarakat Desa. Pasalnya untuk Pemerintah Desa di Kecamatan Gondang ini sudah menjadi niatan untuk mengeksplor tempat-tempat wisata di Kecamatan Gondang ini.

"Tinggal menuggu klik dari Pemkab, soalnya kalau di tahun 2018 ini Pemerintah tidak serius maka kita akan ketinggalan dengan kabupaten Nganjuk", pungkasnya. (Bim/red).

15 Desember 2017

Raih Juara Terbaik Pertama Desa Wisata, Desa Sambongrejo Akan Mudahkan Akses & Tingkatkan Sarpras

    Jumat, Desember 15, 2017  

suarabojonegoro.com - Sambongrejo salah satu desa paling selatan kota bojonegoro dengan semangat pemuda dan didukung Pemerintah Desa akhirnya mendapatkan juara terbaik pertama pengelolaan desa wisata Kabupaten Bojonegoro 2017. Anugerah Pengelolaan Desa Wisata didapatkan berkat perjuangan selama kurang lebih satu tahun dengan semangat kekeluargaan.

"Semangat pemuda desa dan pemerintah tidak sampai berhenti disini, kita akan terus bekerja secara gotong royong dan meningkatkan destinasi wisata desa terkoneksi dengan meningkatkan sarana prasarana, " ungkap Kepala Desa Sambongrejo Eko Prastiyono.

Sampai saat ini rintisan pembangunan sarana prasarana mulai dari toilet, akses jalan,dan fasilitas lainya sedang dalam proses. Fasilitas tersebut tentu untuk memanjakan para wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Sambongrejo yang memiliki empat destinasi wisata desa diantaranya Buton (Bukit Tono), Goland (Goa Landak), Sendang Dangke dan Wagan (Watu Gandul).

Keempat destinasi wisata Desa tersebut kini sudah bisa diakses dalam satu paket dengan naik odong-odong dengan hanya membayar cukup murah hanya Rp. 20.000,-. Dan uniknya keempat wisata desa itu menawarkan pemandangan alam dan spot foto untuk selfie berbeda, masing-masing memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. (Lis*)

12 Desember 2017

Desa Sambongrejo Wakili Bojonegoro Sebagai Desa Inovatif

    Selasa, Desember 12, 2017  
Oleh : Pokja Budaya


Desa Sambongrejo Kecamatan Gondang Bojonegoro menjadi satu-satunya desa peserta Workshop Kemitraan Organisasi Masyarakat Desa atas undangan Kementrian Desa, PDTT di Jakarta Selatan. Desa Sambongrejo terpilih karena memiliki kriteria sebagai desa inovatif dengan konsep jasa wisata desa terkoneksi yang menggabungkan empat wisata desa yakni Goland (Goa Landak), Buton (Bukit Tono), Wagan (Watu Gandul), dan Sendang Dangke.

Keempat wisata desa tersebut bisa menjadi jujugan wisatawan dari berbagai daerah dalam satu paket dan sekarang pihak desa telah bekerja keras membangun infrastruktur mengkoneksikan wisata tersebut dengan Dana Desa. Wisata rintisan tersebut dikelola dengan semangat gotong royong para pemuda dan pemerintah desa sejak setahun lalu.

"Ini kerja keras Pemerintah Desa dan para pemuda desa yang tergabung dalam pokdarwis, semangat gotong-royong membantu kami untuk persoalan-persoalan yang kami hadapi bersama. Tentu tanpa persoalan kami tak akan belajar bersama," ungkap Doel Paryono humas pokdarwis yang hadir dalam acara tersebut.

Setelah bekerja keras hampir satu tahun lebih, Desa Sambongrejo terpilih mewakili Bojonegoro sebagai peserta workshop yang dihadiri perwakilan desa-desa seluruh Indonesia. Jumlah peserta perwakilan desa-desa se-Indonesia sejumlah 161 desa. Diharapakan dengan workshop tersebut desa bisa meningkatkan produk unggulan desa dan harapan desa untuk bisa meningkatkan pembangunan ekonomi dan maju yang berorientasi pada kemandirian desa untuk membangun dan inovatif.

"Dengan segala keterbatasan, desa akhirnya memberangkatkan dik Doel Paryono untuk mewakili desa. Dik Doel Paryono aktif di Pokdarwis dan harapan besar kami di acara tersebut kami lolos menjadi salah satu desa yang mendapatkan Anugerah Inovator Desa 2017 Indonesia. Kami sangat berharap," Ujar kepala desa Sambongrejo, Eko Prasetyono.

Perwakilan dari Desa Sambongrejo akan mengikuti workshop selama dua hari di Jakarta Selatan dan akan bertatap muka langsung dengan Menteri Desa, PDTT, Eko Putro Sandjojo. Diharapkan dengan mengikuti acara tersebut memperoleh inspirasi inovasi-inovasi dari desa-desa se-Indonesia untuk direplikasi di Sambongrejo. (JW*)

04 Desember 2017

Purnama Sastra Di Unigoro, Tingkatkan Pengetahuan Mahasiswa Dibidang Seni

    Senin, Desember 04, 2017  
Reporter : Bima Rahmat


suarabojonegoro.com - Bertempat di Aula Gedung Rektorat Unigoro, Lt.1 Jalan Lettu Suyitno No 2, Desa Kalirejo, Kabuapten Bojonegoro, malam hari ini (03/12/17) Universitas Bojonegoro (Unigoro) memfasilitasi pagelaran Purnama Sastra Bojonegoro, yang ke-39. Pagelaran yang digelar oleh para seniman tersebut diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Unigoro. Senin (04/12/17)

Arief Januarso, selaku Ketua Yayasan Suyitno menyatakan bahwa, Kampus Unigoro, akan selalu memberikan fasilitas bagi Mahasiswanya selama dalam kegiatan tersebut positif. Ia juga berharap dengan kegiatan Purnama Sastra Bojonegoro, ini akan mampu memberikan pembelajaran bagi para Mahasiswa Unigoro dibidang Seni.

"Selama kegiatan itu positif akan selalu kita dukung", katanya.

Pagelaran Sastra Bojonegoro, yang diselenggarakan Pada Pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh para mahasiswa Unigoro, Aggota Pagelaran Sastra Bojonegoro (PSB), para seniman lokal Bojonegoro. Dalam acara tersebut para seniman ini membawakan berbagai macam kesenian diantaranya adalah, pembacaan puisi, pembacaan tulisan pikiran, membaca gelagat zaman, teater, musik dan tari-tarian.

"Pagelaran ini rutin dilaksanakan setiap bulan, tapi tempatnya berbeda beda", tuturnya.

Pria yang akrab disapa Pak Ayik ini menuturkan bahwa, UKM Seni Unigoro, sendiri dalam giatnya selalu aktif dalam setiap kegiatan dan pagelaran disetiap efen.
"UKM Seni Unigoro, sendiri selalu aktif seperti Car Free Day tadi UKM Seni Unigoro, juga ikut memeriahkan efen hari AIDS Sedunia", pungkasnya. (Bim/red).

11 November 2017

Puisi-Puisi Karya Surya Feby Dita

    Sabtu, November 11, 2017  
Kekasih
Karya: Surya Feby Dita

Cinta abadi…
Aku tak pernah tahu darimana kau berasal
Aku tak pernah tahu semua tentangmu
Namun….semua berubah
Saat jantung ini mulai berlarian ketika berada di sisimu
Saat raga ini, jiwa ini terguncang olehmu

Ku pandang matamu dengan binar
Ku peluk tubuhmu dengan mesra
Ku cium bibirmu dengan manja
Ku kunci hatimu di hatiku

Biar…
Biar semua rasa ini beradu menjadi Satu
Biar kita saling tahu
Biar kita saling memiliki dan juga memehami



Kekuatan cinta
Karya: Surya Feby Dita

Pujaan hatiku…
Hidupmu adalah milik Negara
Pengorbananmu untuk bangsa
Kamupun selalu berada jauh di sana

Namun…bukan jarak yang menghalangi cinta kita
Bukan semata tugas yang menghalangi pertemuan kita

Kita harus tetap bersama
Berdua dalam suka duka
Cintalah yang menguatkan semua rasa di dada
Kasih sayanglah yang mempu menguatkan semua penghalang di depan mata

Dan mungkin inilah jalan terbaik bagi kita
Untuk senantiasa mengingat-Nya, memohon pada-NYa, dan mendektkan diri kepada sang pencipta.


Abang ku
Karya: Surya Feby Dita

Aduh abang
Abang ku sayang
Abang ku cinta

Kumismu selalu menggoda baaangggg
Senyummu selalu menggelora
Sikapmu yang penuh charisma
Hingga membuatku terpanah asmara

Abangggg…
Jangan kau berdusata
Jangan kau berpaling muka
Jangan kau membuat lara
Cukup aku bang, cukup aku saja
Jangan ada wanita lain, jangan pula ada cinta yang lain


Benarkah
Karya: Surya Feby Dita

Kau bilang aku ini adalah cahayamu
Kau bilang aku ini adalah cintamu
Kau bilang aku ini yang terbaik untukmu
Kau bilang aku ini penyempurna hidupmu
Benarkah itu…..?

Jangan hanya merayuku
Jangan hanya permainkan aku
Jangn pula kau hanya sekedar mengumbar kata-kata itu

Bukan ku tak percaya
Bukan ku tak suka
Bukan pula ku tak mengakuinya

Namun…
Ku hanya ingin cintamu
Cinta kasih tulusmu
Bukan hanya sekedar bualan semata



Bunda
Karya: Surya Feby Dita

Hidup ini hanya untuknya
Pengorbanan ini semata juga untuknya
Semua keberhasilan dan mimpi besarku akan ku gapai untuknya
Bunda….

Cintamu, sayangmu, kasihmu, pengorbananmu, serta ketulusanmu adalah anugerah terindah dalam hidupku
Jadi apakah aku  bu…?
Bagaimanakah diriku ini…?
Jika tanpa kasih sayang juga pengorbananmu

Sahabat-sahabatku
Karya: Surya Feby Dita

Malam tak akan indah tanpa adanya bintang yang bertaburan
Pohon tak akan menawan bila tanpa ada bunga yang bermekaran

Lekukan di pipi ini
Suara ceria setip hari
Manis yang selalu menyelimuti
Pahit yang kadang menghampiri
Semua ada karena mu…
Iya…sahabat-sahabatku

Kalau saja waktu dapat diputar kembali
Kalau saja kita dapat berkumpul kembali
Tak akan kusiakan sedetikpun tanpa kalian

Kesetiaan, kepolosan, ketulusan, kebaikan serta kasih dan sayangmu akan ku kenang selalu
Akan terukir dalam benakku..
Oh sahabatku……

Ingin selalu bersama
Karya: Surya Feby Dita

Sikapmu yang penuh kasih dan sayang
Membuat aku selalu mabuk kepayang
Sungguh kau pria idaman
Kau pria impian

Saat malam tiba…
Rindu ini, rasa ini, hasrat ini melambung tinggi
Jiwaku terguncang
Pikirku melayang
Dirimu selalu terkenang
Selalu terbayang dan terayang

Seakan tangnmu selalu membelai mesra tubuh ini
Seakan nafasmu dan nafasku saling beradu
Diriku terbuai, melayang terbawa  cumbu rayumu
Sungguh aku tak kuasa, aku tak berdaya
Kau yang sangat mempesona
Hingga membuat ku terlena

Jangan…….jangan……jangan tinggalkan aku
Jangan lepas pelukmu, jangan lepas kecupanmu, jangan beranjak dariku
Jangan…..jangan….

Aku tak bisa jauh dari mu
Aku tak bisa membiarkan diri ini merana tanpa mu

Tetaplah disini
Memadu kasih bersama
Memadu rindu berdua
Membelai mesra, serta mengungkapkan kata cinta
Oh kekasih…………












Biodata penulis :
Nama Surya Feby Dita Rahayu Ningsih adalah mahasiswa aktif ikip pgri bojonegoro semester 5 prodi bahasa dan sastra indonesia

29 Oktober 2017

Ini Pesan Revolusi Mental dalam Pertunjukan Wayang di Bojonegoro

    Minggu, Oktober 29, 2017  
Reporter: Arum Sekar

suarabojonegoro.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama H. Abidin Fikri, S.H., M.H. selaku Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan menyelenggarakan dialog dan pertunjukkan rakyat wayang kulit di Desa Dander, Bojonegoro, Sabtu (28/10/2017). Ribuan warga tampak memadati areal pertunjukan wayang yang bertema “Pembangunan Karakter Nasional yang Berjiwa Pancasila dalam Bingkai Gerakan Nasional Revolusi Mental”.


“Pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Canggih Triatmaja mengambil lakon “Wiratha Parwa” bertujuan untuk menguatkan pembangunan karakter bangsa, melalui penanaman nilai-nilai Pancasila dalam bingkai Gerakan Nasional Revolusi Mental,” ungkap Abidin Fikri.


Dalam dialog Abidin Fikri menerangkan bahwa mari kita kembali pada ajaran Bung Karno, yaitu “Revolusi mental merupakan satu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”, Tegas Abidin.


“Maka mari kita amalkan nilai revolusi mental dalam 3 hal, integritas, etos kerja dan gotong royong yaitu menguatkan jiwa Pancasila, usaha bersama, bermusyawarah untuk mufakat dan mengutamakan kepentingan bersama”, ajak Abidin.


Ismail Cawidu, Msi. selaku Narasumber dari Kominfo mengatakan bahwa “agenda ini merupakan strategi kebudayaan dalam membangun karakter bangsa, melalui pertunjukan wayang ini kami berharap masyarakat dapat dengan mudah memahami pendidikan karakter nasional yang berjiwa Pancasila dalam bingkai gerakan nasional revolusi mental yang mentransformasikan cara berpikir, cara kerja dan cara hidup ke arah karakter integritas, etos kerja dan gotong royong dengan merujuk pada tujuan nasional”, Kata Ismail.


Drs. Budi Irawanto, M.Pd selaku tokoh masyarakat dalam acara dialog tersebut mengutarakan apresiasi kepada segenap elemen pemerintahan dan masyarakat Bojonegoro yang sangat antusias membangkitkan semangat kebudayaan di Bojonegoro.


“Mari kita sebagai masyarakat punya semangat percaya diri pada kemampuan sendiri sebagai bangsa dan marilah kita menguatkan rasa optimisme dengan daya kreatif di kalangan rakyat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan-kesulitan bermasyarakat dan bernegara”, ajak Budi Irawanto yang juga anggota DPRD Kab. Bojonegoro tersebut. (Rum) 

21 Oktober 2017

Melalui Pagelaran Wayang Kulit DPRD Provinsi Jatim Sosialisasikan Perundang Undangan

    Sabtu, Oktober 21, 2017  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Bertempat di lapangan Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, ratusan masyarakat dengan antusias mengikuti pertunjukan kesenian tradisional wayang kulit. Pagelaran kesenian wayang kulit semalam suntuk tersebut merupakan kerja sama antara DPRD Provinsi Jawa Timur dengan Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, untuk memeringati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur yang ke 72. Minggu (21/10/17).

Dari pantauan media suarabojonegoro.com dihadiri oleh segenap pimpinandan anggota DPRD Kabupaten Bojonegoro, Kepala satuan kerja lingkup Kabupaten Bojonegoro, serta seluruh Muspika sekecamatan Kapas.

Selain pertunjukan wayang kulit dalam acara tersebut ditampilkan juga berbagai kesenian tradisional, serta dibuka juga Bazar yang menyajikan berbagai pernak pernik dan makan khas Desa Plesungan.

Dalam sambutannya Sigit Kusharianto, yang dalam hal ini mewakili DPRD Kabupaten Bojonegoro menyatakan bahwa dalam acara pagelaran wayang kulit ini sekaligus sebagai sosialisasi perundang undangan yang akan disampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui DPRD Provinsi Jawa Timur.

"Tentunya kami sebagai wakil masyarakat mewakili unsur pimpinan DPRD, kami mengucapkan terima kasih atas segala upaya Pemerintah Provinsi dalam rangka memberikan edukasi perundang-undangan kepada kita", katanya.

Dirinya menyatakan bahwa banyak peraturan Daerah yang hanya berkutat di Kabupaten Bojonegoro. Namun peraturan Daerah Provinsi perlu juga untuk ditranformasi kepada masyarakat Bojonegoro. Sehingga masyarakat faham apa yang menjadi regulasi pemerintah Jawa Timur.

"Kita patut untuk mensyukuri, karena dalam pagelaran wayang kulit yang akan dibawakan oleh Ki Dalang Warsino Slank ini mudah-mudahan menjadi salah satu bagian cara pemerintah untuk memediasi, memfasilitasi segala Informasi yang berkaitan dengan tugas keseharian maupun tugas pemerintahan", ujar pria dari Fraksi Golkar ini.

Ia berpendapat pagelaran wayang kulit ini adalah merupakan sarana untuk me
mberikan informasi yang efektiv. Disamping itu pagelaran wayang kulit juga apat menjadi tontonan serta tuntunan.

"Tontonan dalam arti memberikan hiburan bagi kita semua, dan tuntunan adalah memberikan segala ilmu yang berkaitan dengan ilmu etika. Disamping itu apabila kita mengkaji dan mengingat bahwa kesenian wayang ini adalah kesenian adi luhung. Yang mana para sesepuh kita, para pendiri Bangsa ini disaat melakukan perjuangan melawan kolonial juga melalui media pewayangan", pungkasnya.

Sementara itu Freddy Poernomo, selaku anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Dapil IX, dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam rangka mempringati HUT Provinsi Jawa Timur yang ke 72 tahun ini DPRD Provinsi Jawa Timur, lebih menekankan pada peraturan daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 15 tahun 2016 tentang pencegahan dan penaggulangan bahya narkotika di Jawa Timur.

"Ini yang kami wanti-waniti bahwa Indonesia yang seperti disampaiakan oleh Bapak Presiden, ini betul-betul sudah sangat memperihatinkan dan sudah menjadi darurat Narkoba. Terkait dengan Narkoba tentu tidak semata-mata menjadi tanggung jawab penegak hukum baik Kepolisoan ataupun BNN, tetapi ini adalah tanggung jawab kita bersama", katanya.

Dirinya menyatakan bahwa acara seperti ini merupakan agenda rutin DPRD Provensi Jawa Timur setiap tahun, sebagai tonggak sejarah dimulainya pemerintahan Provensi Jawa Timur, dengan Gubernur pertama yakni RM Suryo,  yang menjalankan pemerintahan Jawa Timur di Kota Surabaya. Oleh karena itu pemerintah Jawa Timur telah menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Jadi Provensi Jawa Timur, dan telah ditetapkan dalam peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2007 tentang Hari Jadi Provensi Jawa Timur.

"Hari Jadi Provensi Jawa Timur, setiap tahunnya selalu ditandai dengan pelaksanaan upacara, dan kemarin pelaksanaan upacara dilaksanakan di Lapangan Tugu Pahlawan Surabaya, dengan Inspiktur Upacara Bapak Menteri Dalam Negeri, dan kemudian dilanjutkan dengan rapat paripurna", jelasnya.

Pagelaran pentas senian ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan tersebar di 11 wilayah daerah pemilihan di Jawa Timur. Adapun Hari Jadi Provinsi Jawa Timur
Tahun 2017 ini mengambil tema "Penigkatan Sumber Daya Manusia Lewat Pendidikan Kejuruan Sebagai Solusi Menuju Jawa Timur Mandiri dan Berdaya Saing Global".

"Oleh karenanya masyarakat Jawa Timur diharapkan dapat menigkatkan Sumber Daya Masyarakatnya, sehingga mampu bersaing, trampil dan inovatip dalam menghadapi tantangan yang semakin berat dimasa depan. Disamping itu kedewasaan berdemokrasi masyarakat Jawa Timur harus tetap terjaga mengigat tahun 2018 adalah tahun Politik, dan Provinsi Jawa Timur akan melaksanakan Pilkada serentak di 18 Kabupaten Kota dan satu Provinsi", pungkasnya. (Bim/red).

20 Oktober 2017

Festival Wayang Kulit Puncak Puncak HUT Jawa Timur Di Desa Plesungan

    Jumat, Oktober 20, 2017  
Reporter : Bima Rahmat                 

suarabojonegoro.com - Desa Plesungan, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, dalam beberapa minggu ini menggelar berbagai rangkaian kegiatan peringati Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Jawa Timur yang ke 72. Kegiatan yang diawali pada tanggal 18 Oktober tersebut disambut meriah oleh warga masyarakat sekitar. Jumat (22/10/17).

Kepala Desa Plesungan, Mohammad Choiri menuturkan bahwa perayaan HUT Provinsi Jawa Timur ini merupakan bentuk apresiasi dari seluruh anggota dewan yang ada di dapil Bojonegoro.

"Karena Desa Plesungan di tahun 2017 ini keluar sebagai pemenag sebagai juara di tingkat Provinsi, walaupun hanya sebagai juara III. Apalagi Bojonegoro hampir 25 tahun tidak pernah lolos lomba Desa ditingkat Provinsi", katanya.

Ia menyatakan bahwa dalam HUT Probinsi Jawa Timur ini pihaknya diberi kebebasan untuk memilih kesenian tradisional yang diinginkan.

"Pada bulan agustus yang lalu pemerintah desa sengaja tidak mengadakan kegiatan, karena akan kita rangkai dengan hari jadi ini dan dirangkai juga dengan hari sumpah pemuda", tuturnya.

Sementara itu Suyanto, selaku Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro, menuturkan bahwa kegiatan HUT Provinsi Jawa Timur di Desa Plesungan, Kecamatan Kapas tersebut merupakan reses dari DPRD Jawa Timur.

"Kegiatannya adalah gelar seni budaya, sebagai wujud pelestarian seni dan budaya dan sekaligus sebagai media komunikasi menyampaikan program-program. Dan Bojonegoro mengambil sesen wayang kulit", ujarnya.      

Dirinya berharap apa yang dipertontonkan nanti dapat menjadi tontonan, tuntunan an tatanan. Sedangakan untuk lakon yang akan ditampilkan oleh dalang Warseno Slank nanti malam berjudul "Gatot Kaca Winisudo".

"Jadi dalam lakon itu bercerita betapa susahnya sesorang untuk mendapatkan gelar yang harus melalui ujiun-ujin. Kalau ujian ini dapat lolos maka akan mendapatkan gelar atau kepercayaan. Ini yang dapat diteladani dalam pemilihan lakon yang ditampilkan", pungkasnya. (Bim/red).
© 2018 SeputarBojonegoro.comDesigned by Bloggertheme9