26 Agustus 2019

Harga Tembakau Rajang Turun

    Senin, Agustus 26, 2019  

Kontributor : Ahmad Arifin

SeputarBojonegoro.com - Harga tembakau rajang di desa Glagahwangi kecamatan Sugihwaras kabupaten Bojonegoro sebelumnya penah mencapai harga Rp. 25 ribu perkilogramnya kini mengalami penurunan Rp. 23 ribu perkilogramnya

Sutardi, (40) warga desa setempat mengaku bahwa harga tembakau rajang kering langsung dari petani sudah ada yang di beli oleh para tengkulak dengan harga Rp. 23 ribu perkilogramnya.

"Sudah sejak beberapa hari harga tembakau turun dari Rp. 25 ribu menjadi Rp. 23 ribu perkilogramnya," katanya pada seputarbojonegoro.com


Akibat penurunan harga tembakau ini sangat di rasakan oleh petani tembakau asal desa Glagahwangi kecamatan Sugihwaras kabupaten Bojonegoro, pasalnya meski pernah mencapai harga Rp. 25 ribu perkilogramnya masih dianggap murah.

"Meski belum memenuhi keinginan kami, tapi kami sudah merasa lega karena tembakau rajang kami sudah bisa mulai laku dengan harga lumayan oleh tengkulak," lanjut Sutardi.

Ia berharap pemerintah bisa membantu petani untuk bisa menaikan harga tembakau lebih tinggi, pasalnya saat ini  para petani di desa Glagahwangi kecamatan Bojonegoro mencapai petikan pertengahan dengan kualitas tembakau yang lebih bagus. [arf/sbc]


26 Juli 2019

Syarat Mendapatkan Kartu Petani Mandiri (KPM)

    Jumat, Juli 26, 2019  

SeputarBojonegoro.com - Pemkab Bojonegoro akan melauncing program kartu petani mandiri (KPM). Program ini merupakan sebuah inovasi terbaru dari Pemkab sebagai solusi bagi para petani dalam menghadapi gagal panen. "KPM ini diperuntukan untuk petani (pemilik/penggarap) yang sudah tergabung dalam kelompok tani yang ada di Bojonegoro, banyak sekali manfaat yang akan didapat dengan kartu ini.

Tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku, jadi untuk pendataannya harus dilakukan secara akuntabel sehingga pendistribusiannya bisa tepat sasaran. Saya berharap program KPM ini dapat mengobati luka petani saat menghadapi gagal panen, untuk itu Pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi dengan baik untuk mensukseskan program ini," jelas Bupati Bojonegoro Anna Muawanah.

Berikut syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan KPM: 
  1. Tergabung dalam kelompok tani, 
  2. Memiliki lahan kurang dari 2 Ha, 
  3. Fotokopi Kartu Keluarga, 
  4. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk atau surat keterangan Kependudukan dan Catatan Sipil,
  5. Fotokopi Sertifikat Kepemilikan tanah atau Surat Keterangan yang dikeluarkan Kepala Desa/Lurah setempat disertai bukti fotokopi SPPT PBB. 

Manfaat KPM bagi petani:
  1. Memberikan akses bagi rumah tangga/keluarga petani untuk mendapatkan bantuan modal yang berwujud barang dengan nilai maksimal Rp. 10.000.000,00 
  2. Memberikan akses prioritas pelatihan dan pengembangan usaha tani
  3. Jaminan pembelian hasil pertanian bekerjasama dengan Bum. Desa dan BUMD 
  4. Asuransi Gagal panen dan/ peternakan 
  5. Sebagai akses untuk meperoleh beasiswa bagi keluarga pemegang KPM

24 Juli 2019

Bupati Launching KPM dan Gelar Teknologi Pertanian

    Rabu, Juli 24, 2019  

SeputarBojonegoro.com - Pemerintah Kabupaten ( Pemkab) Bojonegoro melaunching Kartu Petani Mandiri (KPM) dan Gelar Teknologi Pertanian di Desa Ngujung Kecamatan Temayang Selasa (23/7) dihadiri Bupati , Pj. Sekda, OPD, Forpimda, Camat, dan Kelompok Tani se Bojonegoro. 

KPM menjadi program unggulan dari 17 (tujuh belas) program Pemkab Bojonegoro. KPM adalah bentuk kepedulian Pemkab terhadapa petani. Petani dapat memperoleh KPM dengan bergabung menjadi anggota Kelompok Tani yang terdapat di wilayahnya. 

Bantuan untuk Kelompok Tani akan disalurkan dalam bentuk sarana dan pra sarana produksi (saprodi). Selain itu Dinas Pertanian melalui pendamping lapangan akan melakukan pendampingan kepada petani untuk memproses pengajuan bantuan kepada Pemkab. 

Bupati Bojonegoro, Anna Muawanah menghimbau kepada petani, bagi petani yang belum tergabung ke dalam Kelompok Tani, segera bergabung atau membentuk kelompok tani baru. Karena ini kaitannya dengan bantuan melalui kelompok tani yang akan diberikan kepada petani. 

Selain fokus launching KPM, Dinas Pertanian juga mengenalkan teknologi pertanian, yaitu penyiraman tanaman menggunakan teknologi drone. Bupati mengapresiasi ide tersebut, dengan gelar teknologi pertanian, petani dapat belajar, menela'ah dan memahami teknologi di sektor pertanian. Harapannya, teknologi mulai diterapkan disektor pertanian (Red/SBC)

19 Juli 2018

Hama Tikus Resahkan Warga Kalicilik

    Kamis, Juli 19, 2018  
Reporter : Sam Nazaro

SeputarBojonegoro.com - Hama tikus yang yang masih menjadi momok bagi para petani kini di alami oleh warga Desa Kalicilik, kecamatam Sukosewu, Bojonegoro.

Hama tikus tersebut menjadi ancaman bagi para petani untuk gagal panen lantaran tanaman milik warga yang hampir panen di serang hama tikus.

Agus, (26) salah satu petani yang beralamatkan di Desa klKalicilik, menjelaskan bahwa hama tikus bukan hanya menyerang tanaman yang hendak panen saja, bahkan tanaman yang baru berumur 12 hari pun ikut menjadi sasarannya.

"Bukan cuma tanaman yang hampir panen yang di serang,tanaman yang baru berumur 12 hari juga di santapnya," tutur Agus. Kamis (19/7/18).

Kelompok tani beserta warga di desa Kalicilik sudah mengupayakan pembuatan sarang burung hantu,bahkan memberi makanan yang di campur racun untuk tikus tapi masih belum bisa menimalisir hama tersebut.

"Kami sudah berusaha meminimalisir,tapi belum berhasil,kami hanya bisa pasrah dan berharap agar hama bisa cepat hilang," keluh Agus.

Petani berharap ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Bojonegoro Untuk menanggulangi Hama Tikus yang semakin meresahkan para petani ini, sehingga para petani tidak mengalami kerugian saat panen, apalagi hingga mengalami gagal Panen. (Sam/Red)

23 Februari 2018

Petani di Kecamatan Gayam Belajar Pembuatan Biopori Sawah

    Jumat, Februari 23, 2018  

SuaraBojonegoro.com - Petani di Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo dan Brabowan, Kecamatan Gayam mulai belajar mengenal dan membuat biopori sawah dengan didampingi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro.

Sekitar 100-an orang petani tersebut mengikuti kegiatan pembuatan biopori sawah yang disusun LPPM Unigoro dan didukung Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) di Aula Kantor Kecamatan Gayam, Jum'at (23/2) siang tadi.

Ketua LPPM Unigoro Laily Agustina Rahmawati, S.Si, M.Sc mengatakan penggunaan biopori pada sawah sangat diperlukan, mengingat tingkat kesuburan sawah di Bojonegoro sudah tidak ideal lagi.

"Biopori ini kita gunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah, karenga dengan adanya lubang resapan biopori, sedikit demi sedikit tanah bisa memulihkan diri dan hal ini sangat bisa berdampak pada peningkatan produktivitas," ujarnya kepada para peserta.

Selain diberikan pengetahuan tentang biopori, masing-masing peserta juga mendapatkan satu contoh rangka yang digunakan untuk membuat lubang biopori, berbahan bambu dan karet ban.

"Masing-masing peserta kita berikan satu contoh rangka biopori, agar supaya nanti mereka bisa membuatnya sendiri. Satu areal persawahan setidaknya ada 4 rangka untuk resapan biopori," lanjut dosen Fakultas Pertanian Unigoro tersebut.

Dalam kegiatan sekolah lapang pertanian ini, para peserta tidak hanya diajarkan teori saja, melainkan juga praktek langsung di lapangan sehingga dampak kegiatan bisa dilakukan secara langsung.

Sementara itu, dalam kegiatan siang tadi juga dihadiri oleh perwakilan dari Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dan Camat Gayam yang menyampaikan apresiasi kepada para petani yang ikut dalam kegiatan sekolah lapang.

Pihak EMCL maupun Pemerintah Kecamatan Gayam mengharapkan ilmu dan program yang dilaksanakan bersama LPPM Unigoro tidak hanya selesai di materi dan kegiatan saja, namun bisa berlanjut untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Kecamatan Gayam. (Bim/lis)

17 Februari 2018

Harapkan Asuransi Pertanian Mampu Lindungi Petani

    Sabtu, Februari 17, 2018  
Reporter: Abid Amrullah

suarabojonegoro.com - Program asuransi pertanian dirasakan sangat membantu para petani di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sebagian besar petani yang tergabung dalam kelompok tani sudah mendaftarkan lahan pertaniannya.

Ketua Kelompok Tani Gangsar, Desa Kedungarum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Parlan, mengungkapkan, sebanyak 180 anggota yang tergabung dalam kelompoknya sudah mendaftar sebagai peserta asuransi pertanian.

"Ada lahan pertanian anggota kelompok seluas 122,3 hektare  yang sudah didaftarkan asuransi Pertanian," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (17/2/2018).

Sejauh ini asuransi pertanian sangat membantu petani. Apalagi, di wilayah Kanor dan sekitarnya sering terjadi bencana banjir luapan Bengawan Solo.

"Sudah berjalan empat musim dan sudah ada yang mengklaim karena bencana banjir," kata Parlan.

Sementara, Ketua Kelompok Tani Karya Tani 2 Desa Semanding, Suwito (59), mengatakan, di desanya yang tergabung di kelompok tani ada lahan pertanian seluas 97 hektar.

Petani yang tergabung dalam kelompoknya sebagian besar lahannya daerah rawan banjir. Asuransi pertanian sangat membantu petani jika mengalami gagal panen akibat bencana.

Sedangkan petani yang mengalami kerugian gagal panen akibat bencana, bisa melakukan klaim asuransi sebesar Rp6 juta per hektar.

"Per hektarnya, premi sebesar Rp38 ribu dan mendapat subsidi dari pemerintah menjadi Rp18 ribu yang dibayarkan setiap musim panen," ungkapnya.

Saat ditemui secara terpisah salah satu Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, mengakui, pentingnya memberikan perlindungan kepada petani melalui penyediaan asuransi pertanian, bagi usaha di bidang pertanian. Program asuransi ini akan dikembangkan lagi ke sektor peternakan, perikanan, dan perkebunan.

"Kita juga akan memberdayakan petani dan petani hutan melalui penguatan kelembagaan petani dan intensifikasi pertanian," tegas mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Bojonegoro.

Selain memberikan perlindungan dan memberdayakan petani, lanjut Pak Mul-sapaan akrab Soehadi Moeljono,  penyediaan jaringan sarana irigasi dan air bagi pertanian juga sangat penting.

"Pembangunan Waduk Gongseng dan menghidupkan tanah Solo valley mulai Kecamatan Ngraho sampai Baurno, ini harus dipercepat sehingga petani di wilayah selatan bisa lebih sejahtera," tandas Cabup yang berpasangan dengan Kader Muslimat NU, Mitroatin itu.

Selain itu, kedepan seluruh jalan desa dan akses ke sentra pertanian harusnya dibangun dengan konstruksi cor. Ini akan mempermudah akses pertanian, dan untuk percepatan kesejahteraan masyarakat. (bid/red)

16 Februari 2018

Program Harga Stabil Disaat Panen Raya

    Jumat, Februari 16, 2018  
Reporter: Monika

suarabojonegoro.com - Persoalan yang kerap dihadapi petani Bojonegoro, Jawa Timur adalah turunnya harga gabah di tingkat petani saat panen raya.

Problema klasik ini terjadi, karena ketersediaan beras maupun gabah cukup tinggi, sehingga harganya rendah. Sementara pengendalian harga tergantung kepada para tengkulak yang langsung memborong gabah petani.

Seorang petani di Desa Kedungarum, Kecamatan Kanor, Sarjono,  mengungkapkan,  saat memasuki musim panen raya, harga gabah di tingkat petani pasti mengalami penurunan. Panan raya terakhir yakni pada pertengahan hingga akhir bulan Januari 2018 lalu, harga gabah kering sawah mengalami penurunan dari Rp6000, menjadi Rp5.000 perkilogram.

"Pengalaman tahun sebelumnya, harga gabah bisa turun sampai Rp3.000 perkilogramnya. Tergantung kualitas gabahnya," ungkapnya di samping Harto, petani lainnya.

Di Kecamatan Kanor, petani padi bisa panen  tiga kali setiap tahun, karena memanfaatkan irigasi dari Bengawan Solo. Petani yang mengandalkan pertanian sawah tadah hujan setiap tahun hanya bisa panen satu kali. Selebihnya ditanami palawija maupun jagung.

Lahan tadah hujan berada di bagian selatan Bojonegoro, diantaranya, di Kecamatan Tambakrejo, Ngambon, Ngasem, Bubulan, Temayang, Sugihwaras, Kedungadem,Kepohbaru, Gondang, maupun Kecamatan Sekar.

Kesulitan yang dialami petani di wilayah selatan saat ini, ungkap Ngajianto (30), Warga Dusun Jatirejo, Desa Deling, Kecamatan Sekar,
sekarang petani masih kesulitan mendapat pupuk.

"Siapapun yang terpilih jadi bupati nanti, kami berharap masalah selama ini dihadapi petani bisa teratasi," harap Ngajianto.

Di wilayah selatan, selain mengandalkan pertanian padi, petani yang berada jauh dari aliran irigasi sungai ini memanfaatkan lahan hutan untuk pertanian.

Salah satu anggota LMDH Wono Hijau, Kasto, warga Dusun Ngampel, Desa Deling, Kecamatan Sekar, mengatakan, persoalan yang sering dihadapi petani di kawasan hutan  adalah sulitnya mendapatkan pupuk serta akses jalan pertanian yang tak sesuai harapan.

"Saat bertemu kami di acara LMDH beberapa waktu lalu,  Pak Mul berkata rencananya pembangunan jalan poros desa akan dilakukan dengan beton,  dan gang kecil menggunakan paving sehingga memudahkan akses transportasi warga, dan hasil pertanian," terang Kasto.

Saat dikonfirmasi Cabup Bojonegoro, Soehadi Moeljono, tak menampik jika telah bertemu dengan sejumlah LMDH di wilayah Sekar. Diakui telah menyampaikan program pertanian kepada pengurus dan anggota LMDH di wilayah Sekar dan sekitarnya.

Dia katakan, pihaknya telah menyiapkan program untuk mengendalikan  harga gabah saat panen raya,  dan meningkatkan sumber daya petani agar kualitas panen meningkat.

"Kita akan bersinergi dengan Bulog untuk menyerap gabah petani sesuai HET (Harga Eceran Tertinggi)," tegas  Ketua Himpunan Kerukunan Tani (HKTI) Bojonegoro itu.

Pak Mul, sapaan akrab Soehadi Moeljono, juga telah menyiapkan program air untuk semua dengan melakukan percepatan pembangunan Waduk Gongseng, beserta jaringan sarana irigasi persawahan untuk memenuhi kebutuhan pengairan. Melalui itu  ketimpangan sektor pertanian, antara wilayah utara dan selatan Bojonegoro yang terjadi selama ini dapat teratasi.

"Dengan begitu sektor pertanian di wilayah selatan dapat terangkat dan kesejahteraan petani meningkat lebih cepat," tutur mantan Sekretaris Daerah ( Sekda) Bojonegoro itu.

Ditambahkan, infrastruktur pertanian akan diintegrasikan dengan program jaringan infrastruktur jalan, dan jembatan yang dipadukan dengan ketersediaan moda transportasi publik yang menjangkau seluruh desa, instansi layanan publik, dan terutama kawasan pertanian, pariwisata, dan industri migas.

"Kami yakin akan dapat mewujudkan Bojonegoro tangguh dan bersinergi untuk kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan," tegas Cabup yang berpasangan dengan Kader NU, Mitroatin itu. (nik/Red)

14 Februari 2018

Peningkatan Pelatihan Pembuatan Pupuk Ke Petani Oleh LPM Unigoro dan EMCL

    Rabu, Februari 14, 2018  
Reporter: Arum Sekar

suarabojonegoro.com - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro bersama Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik dari bahan dedaunan kepada para petani di Kecamatan Gayam, Jum’at (9/2) siang tadi.

Kegiatan yang berlangsung di aula kantor Kecamatan Gayam diikuti oleh sekitar 100 peserta yang terdiri dari petani dan taruna tani dari Desa Gayam, Mojodelik, Brabowan dan Bonorejo.

Para peserta yang sebelumnya sudah diberikan beberapa ilmu tentang pertanian, pada kesempatan siang tadi dilatih untuk membuat pupuk kompos berbahan daun.

Selain untuk memangkas biaya produksi, penggunaan pupuk organik juga dinilai sangat baik untuk meningkatkan kualitas tanaman para petani.

Dalam pelatihan tersebut melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro yang menyediakan drum komposter untuk proses pembuatan kompos daun.

Para petani yang hadir bisa langsung melihat bahan-bahan yang dibutuhkan hingga proses pembuatan pupuk alami tersebut.

Ketua LPPM Universitas Bojonegoro, Laily Agustina Rahmawati, S.Si, M.Sc mengatakan, dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk organik ini diharapkan petani bisa memproduksi pupuk sendiri dan tidak ketergantungan dengan pupuk pabrik.

“Tentu sangat bagus jika petani bisa kembali menggunakan pupuk organik bagi tanamannya, dan kami memberikan pelatihan agar petani bisa membuat sendiri pupuk kompos tersebut, dan dengan bahan baku daun tentu mudah untuk didapatkan petani” ujar wanita yang juga dosen Fakultas Pertanian Unigoro tersebut.

Selain dari Dinas Lingkungan Hidup, hadir juga dosen Fakultas Pertanian Unigoro, Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro dan EMCL.

Arief Januarso, S.Sos, M.Si, Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB) dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa tingginya tingkat kehadiran petani dalam setiap kegiatan LPPM Unigoro menunjukkan bahwa para petani di Kecamatan Gayam siap menerima ilmu-ilmu baru.

“Peserta yang hadir selalu penuh, di sini LPPM Unigoro hanya bisa berbagi ilmu yang semoga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pertanian di Gayam,” ungkapnya.

Selain itu, terkait penggunaan pupuk kompos, Ketua YSB menjelaskan bahwa langkah tersebut sangat baik untuk mengembalikan tingkat kesuburan tanah dan mengurangi penggunaan pupuk kimia.

“Saya berharap bapak ibu semuanya bisa menerapkan apa yang sudah kita pelajari pada kesempatan siang ini,” pungkasnya.

LPPM Unigoro bersama Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) dalam program Sekolah Lapang Pertanian proaktif untuk melakukan pendampingan kepada para petani di Kecamatan Gayam untuk meningkatkan kualitas pertanian di wilayah tersebut. (Rum/Lis)

04 Februari 2018

Cegah Meluasnya Serangan Wereng, LPPM Unigoro Bersama Petani Brabowan Lakukan Penyemprotan Massal

    Minggu, Februari 04, 2018  

suarabojonegoro.com - Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro bersama para petani di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, pada 30 Januari lalu melakukan penyemprotan massal untuk pengendalian hama Wereng Batang Coklat (WBC) di area persawahan desa setempat.

Penyemprotan massal dilakukan untuk mencegah serangan hama wereng meluas di area persawahan sekitar lokasi. Para petani yang sudah menyadari adanya tanda-tanda serangan hama, dengan berkordinasi bersama Tim LPPM Unigoro mengambil tindakan cepat untuk mengantisipasi serangan meluas.

Anggota Tim LPPM, Yaumitdin Sugianto, SP yang turut memantau kegiatan pengendalian hama wereng mengatakan, penyemprotan massal ini sangat perlu dilakukan untuk langkah awal antisipasi meluasnya serangan hama wereng.

Selain itu, pihaknya juga menghimbau agar para petani selalu mengecek tanamannya khususnya di bagian pangkal, untuk mengetahui jika ada tanda-tanda serangan Wereng Batang Coklat.

"Melihat cuaca dan sudah adanya beberapa tempat yang sudah ada hama werengnya, kami mengharapkan agar para petani tetap memantau kondisi di lahannya, agar jika ada serangan bisa segera dilakukan aksi pengendalian," ujarnya.

Sementara itu Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB), Arif Januarso, S.Sos. M.Si melalui Ketua LPPM Unigoro Laily Agustina Rahmawati, S.Si, M.Sc menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan pendampingan kepada masyarakat, dalam hal ini para petani dalam upaya peningkatan kualitas pertanian di Kabupaten Bojonegoro.

"Kami berupaya untuk melakukan pendampingan secara maksimal kepada para petani, hal ini tentu menjadi tugas dari LPPM Unigoro untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat luas," pungkasnya.

LPPM Universitas Bojonegoro bersama Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) saat ini aktif melakukan pendampingan kepada petani di Kecamatan Gayam melalui Program Sekolah Lapang Pertanian, dengan melakukan pertemuan rutin setiap minggunya untuk membantu petani meningkatkan kualitas dan hasil pertanian di wilayahnya. (liq)

03 Februari 2018

Guna Meningkatkan Hasil dan Kualitas Padi, LPPM Unigoro Beri Penyuluhan dan Pembuatan Booster Tanaman pada Petani

    Sabtu, Februari 03, 2018  
Reporter: Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Para petani di Desa Gayam, Mojodelik, Bonorejo dan Brabowan, Kecamatan Gayam pada Jum'at (2/2) siang tadi mendapatkan penyuluhan tentang pembuatan pemacu pertumbuhan (booster) untuk tanaman padi dari kegiatan Sekolah Lapang Pertanian LPPM Universitas Bojonegoro, dengan difasilitasi Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL).

Kegiatan penyuluhan dilaksanakan di Rumah Belajar Petani di Desa Gayam dengan dihadiri oleh 80 orang peserta yang berasal dari petani di empat desa tersebut.

Dalam pertemuan itu, LPPM Unigoro menghadirkan narasumber dari Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, Fakultas Pertanian Unigoro dan Pengamat Hama Pertanian Kecamatan Gayam.

Dalam penyuluhan kali ini, para petani tidak hanya mendapat materi tentang pembuatan booster tanaman, namun juga mempraktekkan secara langsung proses membuatnya.

Praktek pembuatan booster dipimpin oleh Ir. Darsan, M.Agr, dosen Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro.

Ir. Darsan, M.Agr mengatakan, booster atau pemacu pertumbuhan tanaman adalah nutrisi yang digunakan untuk membuat tanaman dapat menyerap pupuk secara maksimal, sehingga dapat berdampak pada kualitas dan peningkatan jumlah panen.

Menurutnya, selama ini masih banyak petani yang belum mengetahui fungsi booster dan cara membuatnya, sehingga pada penyuluhan kali ini para petani diberi pengetahuan tentang booster dan cara membuatnya.

"Dengan menggunakan booster ini dapat mamacu pertumbuhan padi dengan lebih maksimal, sehingga jumlah padi yang dihasilkan bisa lebih berkualitas dan lebih baik," ujar Wakil Dekan Fakultas Pertanian Unigoro itu.

Ia mengharapkan, dengan adanya kegiatan ini, para petani bisa langsung membuat dan menerapkan booster untuk tanaman mereka.

Booster yang dipraktekkan kali ini adalah booster organik dan unorganik, lengkap dengan seluruh bahan yang diperlukan, sehingga para peserta tidak bingung.

Para petani yang hadir juga tampak antusias menanyakan perihal pembuatan pemacu pertumbuhan tanaman itu.

Pihak Universitas Bojonegoro melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) masih akan terus melakukan pendampingan secara bertahap kepada para petani di Kecamatan Gayam.

Ketua Yayasan Suyitno Bojonegoro (YSB), Arief Januarso, S.Sos, M.Si mengatakan, Universitas Bojonegoro ingin secara proaktif memberikan manfaat kepada masyarakat, dalam hal ini untuk permasalahan pertanian.

"LPPM Unigoro akan berusaha memberikan yang terbaik sebagai wujud pengabdian kampus kepada masyarakat, dalam hal ini para petani," ungkapnya.

Ketua YSB juga mengapresiasi semangat para petani yang ingin terus belajar dan hampir selalu hadir keseluruhan dalam setiap kegiatan terkait pertanian. (Bim/Lis)

25 Januari 2018

Babinsa Kodim 0813/Bojonegoro Terpacu Surplus Hasil Panen Padi

    Kamis, Januari 25, 2018  
Reporter: Bima Rahmat

suarabojonegoro.com- Pasca kedatangan kunjungan Menteri Pertanian RI di Desa Gandong Arum Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro beberapa waktu lalu, menjadikan semangat baru bagi para petani padi di seluruh wilayah Bojonegoro.

Surplus hasil panen padi yang diungkapkan oleh Menteri Pertanian telah memacu para Babinsa Kodim 0813 Bojonegoro untuk terus membantu petani dalam meningkatkan hasil panen petani. Hal ini terlihat saat Babinsa Koramil 0813-17 Kalitidu bersama-sama para petani padi menanam benih padi di Desa Pungpungan, Rabu (24/01).

Serka Romli Babinsa Koramil Kalitidu mengatakan, kegiatan tanam padi hari ini dilakukan di areal sawah seluas 2 Ha dengan estimasi hasil panen 12 Ton. "Disamping itu juga masih dalam masa tanam II Oktober-Maret dengan dukungan air yang cukup dan pendampingan secara kontinyu, kami optimis akan menghasilkan panen yang optimal," lanjutnya.

Senada dengan Babinsanya, Danramil 0813-17 Kalitidu Kapten Inf Jamari mengungkapkan bahwa selain kegiatan tanam padi, Babinsanya juga sedang melakukan pendampingan para petani padi di Desa Pilangsari.

Danramil menambahkan, luas lahan yang sedang dipanen adalah 6 Ha dengan capaian hasil sebanyak 36 Ton, dan ini sangat menggembirakan bagi kami maupun para petani padi Kecamatan Kalitidu.

"Melalui apa yang telah disampaikan oleh bapak Menteri Pertanian RI bahwa tidak ada import beras merupakan angin segar bagi para petani. Tentunya hal ini mampu membangkitkan motivasi juang petani dalam menyediakan pangan di wilayah Kabupaten Bojonegoro, sehingga Ketahanan Pangan itu akan semakin maksimal hasilnya," pungkasnya.

Dengan meningkatnya jumlah hasil panen padi di seluruh wilayah Bojonegoro, tidak mustahil akan menjadikan kabupaten ini sebagai lumbung padi Jawa Timur yang juga akan berimbas pada meningkatnya kesejahteraan para petani padi. (Bim/Lis)

23 Januari 2018

Petani Di Temu - Kanor Lega, Hasil Panen Tanaman Padi Meningkat

    Selasa, Januari 23, 2018  
Reporter: Abid Amrullah

suarabojonegoro.com- Petani di Desa Temu,  Kecamatan,  Kanor,  Bojonegoro bisa sedikit lega,  karena hasil panen tanaman Padi mereka bisa memperoleh hasil yang meningkat, baik dari kualitas gabah maupun harganya yang dibeli oleh tengkukak, Selasa (23/01/2018).

Disela sela kegiatan memanen tanaman padi disawahnya,  salah satu petani, H. Mashadi, mengatakan bahwa hasil panen tanaman padi kali ini meningkat dari panen sebelumnya.

“Alhamdulillah hasilnya meningkat dari yang kemaren," ujar pria 70 tahun ini.

Kakek yang biasa disapa Mbah Kaji ini menambahkan bahwa Hasil panen kali ini bisa meningkat dari sebelumnya di karenakan bibit yang lebih baik dan katagori unggul. Sementara jumlah hama yang tidak begitu banyak dan juga kebutuhan air yang terpenuhi.

“Tikusnya tidak begitu banyak, bibitnya unggul dan juga air dari sumur warga sudah mencukupi," ujar Kaji Hadi.

Ditambahkan pula bahwa Harga gabah perkilogramnya yang mengalami peningkatan mencapai kisaran harga Rp. 5.200 di banding dengan Harga-harga sebelumnya yang begitu rendah dengN kisaran Rp. 3.500 Perkilogramnya.

Para petani ini mengharapkan kepada pemerintah agar menurunkan harga pupuk dan juga bisa menstabilkan harga pada saat panen,  sehingga tidak merugikan para petani.

“Ya, semoga pemerintah bisa menurunkan harga pupuk dan bisa mengangkat petani dengan harga padi yang tinggi," pungkasnya. (Bid/Red)

22 Januari 2018

Menteri Pertanian Kunjungi Pertanian Di Kecamatan Kanor

    Senin, Januari 22, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Hari ini menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, mengunjungi Desa Gedongarum Kecamatan, Kanor Kabupaten Bojonegoro. Dalam kunjungan kerjanya yang bertemakan "Tanam dan Panen Padi Setiap Hari Menuju Kedaulatan Pangan" tersebut menteri pertanian diikuti oleh 200 orang. Senin (22/01/18).

Bupati Bojonegoro, Suyoto, dalam sambutannya menyatakan bahwa di Kabupaten Bojinegoro terdapat sekitar 8.200 hektar setiap panen perbulannya. Dan pada bulan depan sekitar 25.964 hektar serta pada bulan Desember hingga bualan Mei terdapat sekitar 78.200 hektar.

Dalam hak ini Bupati menyampaikan bahwa dengan adanya panen yang melimpah maka masyarakat Kecamatan Kanor menolak adanya impor beras.

"Terimakasih kepada kunjungan menteri Pertanian semoga bisa membawa kebaikan", katanya.

Dalam kesempatan yang sama Winarno Tohir selaku Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA Indonesia) menyatakan merasa bersyukur yang mana Kabupaten Bojonegoro telah memanen begitu banyak padi. Oleh karena itu masyarakat Jawab Timur menolak adanya Impor beras serta Pemerintah diharapkan memikirkan kembali terkait program Impor beras tersebut.

"Berharap harga padi tetap terjaga dan tidak bisa turun bebas sehingga para tani bisa tenang", ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Gubernur Jawa Timur, Sukarwo, bahwa, hingga saat ini sekitar 8.500.000 Ton beras telah dihasilkan oleh Jawa Timur. Sedangkan untuk HPP saat ini gabah kering giling sekitar 4.800 per Kilo gramnya. Secara tegas dirinya menyatakan bahwa, permasalahan bukan di produksi akan tetapi pada proses perdagangan.

"Permasalahan bukan pada produksi tetapi pada proses perdagangan", jelasnya.

Diwaktu yang sama Letjen TNI Tatang Sulaiman (Wakasad) menyatakan bahwa TNI sudah berkomitmen untuk menjaga swasembada pangan di Indonesia serta ucapan terimakasih atas kerja keras oleh para Babinsa yang telah membantu para petani.

"Semoga pengabdian TNI bisa dirasakan masyarakat", ujarnya
Sementara itu Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI, menyampaikan bahwa Pemerintah yang selama tahun 2015 hingga tahun 2017 tidak ada impor beras, yang ada adalah ekspor serta kebutuhan bawang merah juga sudah ekspor. Dirinya juga menyambaikan bahwa saat ini ada asuransi untuk para petani, serta sudah ada kesepakatan dengan Bulog agar menyerap semua hasil panen oleh para petani.

"Itu merupakan tujuan untuk meningkatkan biaya produksi dan tersedia bahan pangan yang melimpah di Indonesia", pungkasnya. (Bim/red).

Kedatangan Menteri Pertanian Disambut Penolakan Impor Beras

    Senin, Januari 22, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Menteri Pertanian Republik Indonesia, Amran Sulaiman, hari ini dalam kunjungan kerjanya dijadwalkan akan mengunjungi, Desa Gedungarum, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro. Namun kedatangannya tersebut disambut oleh puluhan Petani Desa setempat yang menolak Impor beras. Senin (22/01/18).

Mereka meneriakkan, dan juga membentangkan spanduk yang bertuliskan agar pemerintah tidak mengimpor beras yang akan berdampak pada para Petani lokal.

"Pak Presiden tolak Impor beras", terikan para Petani, dengan membentangkan spanduk.

Para Petani ini mengeluhkan jika pemerintah mengimpor beras justru akan berdampak pada rendahnya harga gabah, yang selama ini sudah dirasakan oleh kaum petani pada saat panen.

"Kalau impor beras justru akan merugikan para Petani lokal", kata salah satu Petani yang enggan disebutkan namanya. (Bim/red).

19 Januari 2018

Petani Di Balen Geram Dengan Hama Tikus Yang Merusak Tanaman Padi

    Jumat, Januari 19, 2018  

Reporter: Monika

suarabojonegoro.com - Tikus sawah merupakan ancaman klasik bagi tanaman padi para petani. Tak tanggung, hama tikus sawah ini mampu meluluh lantakkan areal persawahan padi yang siap panen.

"Pada masa tanam II OKMAR (Oktober Maret) ini para petani harus mewaspadai serangan hama tikus sawah, khususnya di wilayah Desa Margomulyo Kecamatan Balen," tutur Sukri petugas PPL Margomulyo, Jumat (19/01).

Sukri menambahkan, guna mengantisipasi kerusakan yang ditimbulkan tikus sawah ini kami bekerjasama dengan Babinsa Koramil Balen dan sekitar 30 orang petani. " Dengan melakukan gropyok sawah ini kami berharap dapat mengurangi hama tikus sawah dan juga menjadikan areal sawah padi ini mampu menghasilkan panen padi yang maksimal," tuturnya.

Senada dengan petugas PPL, Pelda Imam Babinsa Koramil Balen mengungkapkan, kegiatan gropyok sawah ini akan rutin kami laksanakan sebagai bentuk pendampingan TNI kepada para petani padi dalam menciptakan Ketahanan Pangan.

"Walaupun dengan peralatan seadanya kami bersama PPL dan para petani padi dapat memaksimalkan hasil tangkapan hama sawah ini. Dengan kerjasama dan komunikasi yang intens semoga dapat menjadikan suntikan semangat bagi para petani dalam meningkatkan kuantitas dan mutu hasil panen padi di wilayah Kecamatan Balen," pungkasnya.

Nardi, salah satu petani yang mengikuti kegiatan tersebut menambahkan, upaya perang terhadap hama tikus sawah ini merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan hasil panen kami.

"Dengan adanya pendampingan dari Babinsa Koramil Balen dan petugas PPL secara berkelanjutan kami optimis akan mendapatkan hasil panen terbaik tahun ini. Sebagai buktinya dalam gropyok sawah bersama ini kami berhasil menangkap sekitar 40 ekor tikus dengan peralatan seadanya," tutup Nardi. (Nik/Lis)

16 Januari 2018

Banyak Problem, Petani Dekat Pengeboran Migas Banyuurip Mengeluh

    Selasa, Januari 16, 2018  
Reporter: Iwan Zuhdi

suarabojonegoro.com- Beberapa petani didekat pengeboran minyak dan gas bumi Lapangan Banyuurip Blok Cepu mengeluh terkait dengan permasalahan pertanian yang dialami hingga saat ini. Mereka merasa permasalahan pertanian di desa sekitar proyek negara itu masih belum dapat diselesaikan.

Petani setempat, Suwaji (52) warga Desa Gayam RT 11 RW 02 Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro yeng mengaku sudah bertani sejak kecil itu mengeluh terkait beberapa permasalahan yang dialaminya. Seperti langka dan mahalnya pupuk ketika musim tanam, hama yang semakin banyak jenisnya, terakhir tanaman usia 1 bulan menguning.

Harga gabah yang tidak sesuai dengan HPP pemerintah juga menjadi keluhan, serta kesulitan air karena belum ada embung. Ia Berharap agar bulog benar menyerap gabah petani tanpa melalui tengkulak-tengkulak yang harganya sangat rendah.

Terkait impor beras ia juga tidak setuju itu sama halnya membunuh petani, harusnya pemerintah melindungi para petani, mengawal harga gabah. Harapanya harga gabah tahun ini sesuai HPP, kalaupun dibawah HPP jangan terlalu jauh.

Padahal, berbagai upaya pendampingan pertanian telah dilakukan baik dari PPL setempat maupun dari mitra kerja ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Dinilai, pendampingan-pendampingan tersebut belum dilakukan secara maksimal.

Hal senada dikatakan oleh Rokhim, petani asal Desa Begadon Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro. Rata-rata padi milik petani setempat diserang jamur. "Kalau saat ini mungkin keluhannya curah hujan
dan jamur pada pada padi," keluhnya kepada suarabojonegoro.com

Dikatakan salah satu pendamping Pertanian, Midin mengatakan banyak sekali masalah pertanian di desa-desa ring satu Blok Cepu. Namun semua itu masih ada solusinya. "Ada solusi yang efektif nak memang mau menjalankan," katanya menyakinkan. (Wan/Red)

14 Januari 2018

Praktek Membuat Dapog, Petani Gayam Ingin Tekan Biaya Produksi Pertanian.

    Minggu, Januari 14, 2018  
Reporter: Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Petani Gayam dilatih untuk membuat Dapog oleh Tim Sekolah Lapang LPPM Universitas Bojonegoro,  bertempat di Rumah Belajar Petani Di Dusun Sumur Pandan, Desa Gayam. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian dari Kegiatan Sekolah Lapang Pertanian (SLP) yang didanai oleh ExxonMobil Cepu Limited. Jum'at (12/1/18),

Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc., Ketua LPPM  Universitas Bojonegoro menyebutkan tujuan kegiatan tersebut adalah agar Petani mengetahui cara alternatif yang lebih efektif Dan efisien dalam penyemaian benih padi. Karena penyemaian dengan metode Dapog hanya membutuhkan benih padi 1/3 dari jumlah benih yang disemaikan secara langsung di lahan, dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja Untuk Membuat semaian.

Selain itu, Yaumitdin Sugiyarto, S.P., Pemateri sekaligus Ketua PATRA (Pelatihan Anak Tani Remaja), lebih dalam menjelaskan bahwa Sistem Dapog merupakan Sistem persemaian alternatif dengan menyemaikan benih padi diatas media tanah yang berada dalam nampan atau wadah. Keunggulan metode ini adalah: jumlah benih yang dibutuhkan lebih sedikit sekitar 10kg/Ha, Petani mudah mengontrol semaian, Petani secara fleksibel dapat memindahkan semaian ke tempat yang kondusif, lebih aman dari serangan Hama, dan tidak membutuhkan banyak tenaga kerja.

Keuntungan dari sisi tanaman sendiri:
Benih tumbuh dengan cepat dan serempak Bila disemaikan, akan menghasilkan bibit yang tegar dan sehat.

Jika ditanam-pindah dapat tumbuh lebih cepat.
Pertanaman lebih serempak dan populasi tanaman optimum,sehingga akan mendapatkan hasil yang tinggi.

Delapan puluh (80) peserta dengan antusias mengikuti rangkaian pelatihan pembuatan Dapog. Mereka berharap dengan mengikuti pelatihan ini, Petani dapat menekan biaya Produksi Pertanian.

08 Januari 2018

Puluhan Hektar Tanaman Padi Terancam Gagal Panen Akibat Luapan Air Sungai Begawan Solo

    Senin, Januari 08, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com - Puluhan hektar tanaman padi milik para petani di Kabupaten Bojonegoro, terancam gagal panen akibat terendam banjir luapan Bengawan Solo, sejak dua terakhir. Selain meredam tanaman padi, banjir juga mulai mengancam rumah warga yang berada disekitar bantaran Sungai. Senin (08/01/18).

Luapan Bemgawan Solo yang terjadi dalam dua hari terakhir membuat lebih dari 60 hektar tanaman padi di Desa Lebaksari dan Kalisari, Kecamatan Boerno, Kabupayen Bojonegoro, terendam banjir.

Tanaman padi yang berumur rata-rata tujuh puluh lima hari itu kini mulai rusak terendam air. Kondisi ini membuat para petani resah. Ancaman gagal panen membuat mereka hampir dipastikan rugi besar hingga mencapai
jutaan rupiah tiap hektarnya.

"Akibat tingginya biaya yang terlanjyr dikeluarkan saat proses masa tanam, pemupukan, dan perawatan", kata Fadholi salah satu petani.

Selain meredam pertanian, banjir juga mulai mendekati kawasan pemukiman warga. Genagan air setinggi setengah meter mulai meredam halaman dan pelataran rumah yang berada disekitar bantaran Sungai.

"Sudah mulai masuk halaman rumah yang berada disekitar bantaran Sungai", ujarnya.

Sementara itu hingga saat ini, debet air Bengawan Solo, masih menunjukkan trend kenaikan. Berdasarkan data dari pengelolaan Sumber Daya Alam, wilayah sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, tercatat tinggi muka
air Brngawan Solo berada pada posisi 13.88 piskal atau berada pada level siaga satu (Hijau) dengan tren naik. (Bim/red).

06 Januari 2018

Warga Mojodelik Belajar Ternak Nyaman dan Menguntungkan

    Sabtu, Januari 06, 2018  
Reporter: Iwan Zuhdi

suarabojonegoro.com - Puluhan warga belajar kejar paket baik B dan C dan warga Desa Mojodelik Kecamatan Gayam mendapatkan pembelajaran tentang peternakan dari operator Lapangan Migas Banyu Urip,  ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), pada Jum’at (5/1/2018) di Balaidesa setempat.

Didampingi oleh Yayasan Padang Bulan yang berkolaborasi dengan Yayasan Bimantari, Koperasi Produsen Agribisnis dan Pusat Inkubasi Bisnis, para warga belajar diajari dan berdiskusi bagaimana cara beternak yang nyaman dan menguntungkan.

Kegiatan ini dilakukan karena memang usulan warga belajar yang ingin belajar tentang peternakan, ujar koordinator belajar peternakan, M. Nur Andria.

M. Nur Andria lebih lanjut menjelaskan, kegiatan ini sebagai bentuk respon akan kebutuhan warga belajar dan kesinambungan dari program peningkatan partisipasi angka sekolah, dengan berkolaborasi yang saling migunani marang liyan dengan Yayasan Bimantari, Koperasi Produsen Agribisnis dan Pusat Inkubasi Bisnis yang memang ahli dibidang peternakan baik secara pakan, kesehatan, pengolahan limbah hingga akses pasarnya.

Berbagai pertanyaan dilontarkan para peserta. Pada umumnya mereka penasaran mengenai bagaimana mengelola ternak yang nyaman tapi tetap menguntungkan karena selama ini peternakan dianggap menguntungkan tapi belum bisa menyentuh tataran kenyamanan dalam berternak.

"Kami bisa belajar banyak dari para narasumber dari Bimantari, KPA dan PIB sehingga menambah ilmu pengetahuan baru," ucap Pariman, salah satu peserta warga belajar.

Belajar bareng peternakan ini adalah dalam upaya memberikan kemampuan tambahan tentang ternak warga belajar pasca lulus dari pendidikan kejar paket bagi warga sekitar wilayah operasi EMCL.

“Tujuan kegiatan belajar peternakan ini agar warga Mojodelik dan warga belajar khususnya dapat memahami dan mengerti bagaimana cara beternak yang nyaman dan menguntungkan”, jelas perwakilan Padang Bulan, M. Adi Yusuf.

Menurut Yusuf, kegiatan ini di adakan untuk meningkatkan kemampuan warga dalam berternak. "Ini sebagai tindak lanjut dari dukungan program dari EMCL pada program pendidikan. Semoga warga belajar dapat mempraktikan apa yang sudah didapatkan pada kegiatan ini,” harap laki – laki yang juga ketua karang taruna Desa Mojodelik itu.

Perwakilan EMCL, Joni Wicaksono menyampaikan apresiasi kepada warga belajar masih bersemangat belajar, dan menyampaikan apresiasi kepada teman-teman Bimantari, PIB KPA dan Padang Bulan yang sudah mau dan mampu berkolaborasi sebagai lembaga lokal di Kecamatan Gayam.  Serta terima kasih kepada masyarakat Desa Mojodelik yang selama ini telah mendukung keberhasilan operasi Lapangan Banyu Urip.

Menurutnya, program yang dilaksanakan dengan para warga belajar ini adalah wujud komitmen EMCL dalam meningkatkan pendidikan masyarakat sekaligus kemandiriannya. "Semoga apa yang kita pelajari dapat bermanfaat untuk kita semua," pungkasnya.

Turut hadir pada kegiatan ini Kepala UPT Dinas Pendidikan Wilayah X, Bapak Karyoto, Perangkat Desa Mojodelik, Mahasiswa STIKES ICSADA Bojonegoro, dan Yayasan Seminar Indonesia. (Wan/Red)

Sekolah Lapang LPPM Unigoro Bersama EMCL Berikan Solusi Harga Gabah Petani Lebih Tinggi

    Sabtu, Januari 06, 2018  
Reporter : Bima Rahmat

suarabojonegoro.com- Bertempat di Balai Desa Gayam, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (UNIGORO) kembali menggelar Sekolah Lapang Pertanian (SLP) yang didanai oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Adapun dalam acara tersebut Tim LPPM UNIGORO mengenalkan Sistem Resi Gudang (SRG). Sabtu (06/01/18).

Hal tersebut bertujuan untuk solusi bagi petani agar gabah mereka terjual dengan harga tinggi. Selama ini, pada saat panen raya petani sering kali tidak memiliki pilihan selain menjual gabah dengan harga murah ke tengkulak. Hal tersebut yang membuat perekonomian petani saat ini semakin sulit.

Acara yang diikuti oleh 80 Petani dari empat Desa yakni Gayam, Mojodelik, Bonorejo, serta Brabowan. Agus Hariyana selaku Sekertaris Dinas Pertanian Kabupaten Bojonegoro, yang dalam hal ini selaku pembicara menjelaskan tentang Sistem Resi Gudang, Keuntungan atau manfaat SRG, dan kelemahan system yang telah berjalan saat ini.

"Sistem Resi Gudang merupakan suatu sistem penyimpanan sementara gabah petani pada saat panen raya, sehingga dapat dijual kembali pada saat harga tinggi", katanya.

Pada kesempatan ini dirinya memberi contoh bahwa sistem SRG, sama saja seperti jaminan. Petani akan menerima resi yang dapat disimpan sebagai surat berharga, atau digunakan sebagai alat jual beli komoditi di pasar lelang, bahkan dapat digunakan sebagai agunan untuk peminjaman di Bank mitra.

"Keuntungan petani menjalankan system ini adalah petani mendapatkan harga jual yang baik, mendapat kepastian mutu karena system ini harus melalui uji mutu oleh Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK), mendapat pinjaman dari Bank, bahkan dapat mempermudah jual-beli komoditi baik secara langsung maupun melalui pasar lelang. Berdasarkan keuntungan tersebut, maka pantas jika SRG menjadi system penjualan alternatif yang dapat dipertimbangkan petani. Apalagi SRG tidak hanya berlaku untuk komoditas tanaman padi, tetapi bisa juga untuk jenis tanaman lain seperti kedelai, jagung, gaplek, dan sebagainya.", jelasnya.

Namun demikian Agus Hariyana, menegaskan bahwa SRG yang telah berjalan di Bojonegoro juga masih memiliki banyak beberapa kekurangan. Antara lain yakni, Posisi Gudang RSG yang belum merata di semua wilayah Kabupaten Bojonegoro, karena hanya ada di Dander, Kalitidu, dan Padangan.

"Sehingga menyebabkan wilayah lain yang lokasinya jauh dari ketiga kecamatan tersebut akan membutuhkan biaya transport yang lebih tinggi. Selain itu, Gudang SRG yang telah beroperasi dengan baik, baru Gudang SRG di Kecamatan Padangan. Sedang Gudang yang berada di Dander dan Kalitidu masih belum bisa beroperasi secara optimal disebabkan beberapa hal, seperti: belum ada pengelola yang memenuhi kualifikasi, pemilihan alat dryer yang tidak efektif, dan design bangunan gudang yang kurang sesuai", tambahnya.

Ditambah lagi laporan petani yang mengeluhkan lamanya Bank mitra SRG dalam mencairkan pinjaman kepada petani dengan agunan yang berupa Resi Gudang, sehingga para Petani harus menunggu 2 minggu hingga 1 bulan agar pinjaman cair. Meskipun demikian, Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc. mengatakan Permasalahan dalam Sistem Resi Gudang harus dikaji ulang. Sehingga SRG dapat dijalankan oleh petani dan tidak malah merugikan petani. Karena pada dasarnya system ini dibuat untuk membantu petani. Biaya produksi pertanian saat ini sudah cukup tinggi, maka hasil pertanian tidak boleh dijual rugi", katanya.

Sementara itu Arief Januarso Manager Program Sekolah Lapang Pertanian LPPM Unigoro, menyatakan bahwa jika sistem SRG yang berada di Kabupaten Bojonegoro, harus belajar
Sistem Resi Gudang di Cianjur.

"Biar petani bisa belajar dari mereka yang sudah sukses menerapkan Sistem Resi Gudang di sana", pungkasnya. (Bim/red).
© 2018 SeputarBojonegoro.comDesigned by Bloggertheme9